Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Paguyuban BWS Sulawesi II Gorontalo Bahas Langkah Mengenali dan Berdamai dengan Luka Masa Lalu

Azis Manansang • Kamis, 22 Februari 2024 | 13:59 WIB

 

Foto bersama thema pertemuan  ibu-ibu Paguyuban BWS Sulawesi II Gorontalo.(F:Ist)
Foto bersama thema pertemuan ibu-ibu Paguyuban BWS Sulawesi II Gorontalo.(F:Ist)

Gorontalopost.id,  GORONTALO - Langkah Mengenali dan Berdamai dengan Luka Masa Lalu menjadi thema pertemuan ibu-ibu Paguyuban BWS Sulawesi II Gorontalo yang berlangsung di gedung aula BWS Sulawesi II Gorontalo, Rabu (21/02/2024).

Dalam agenda dua bulan sekali, yang turut dihadiri Ibu-ibu Pejabat dan Karyawati BWS Sulawesi II Gorontalo, menghadirkan nara sumber Psikolog, Sri Ayu Kurniawati, M.Psi.

Baca Juga: Oknum Caleg di Gorontalo Diduga Ngamuk Minta Uangnya Dikembalikan

"Kegiatan yang rutin diadakan dua bulan sekali ini untuk ujuan untuk menjaga silaturrahmi paguyuban ibu-ibu.

Kemudian memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada ibu-ibu Paguyuban dalam mengatasi stres,"ungkap Ketua Ibu-Ibu Paguyuban BWS Sulawesi II Gorontalo Ny. Parlinggoman Simanungkalit.

Ia berharap dengan ilmu yang diterima, ke depan ibu-ibu akan semakin memahami dan mengerti dalam mengatasi stres saat mendampingi dalam bekerja.

Baca Juga: Insiden Penjagub Gorontalo Ismail Pakaya Roboh saat Pimpin Apel Korpri Ramai di Medsos

Sementara itu Psikolog Sri Ayu Kurniawati, M.Psi, mengungkapkan pada dasarnya kita tidak dapat melupakan kepahitan di masa lalu. "Meski demikian, kita dapat berdamai dengan mereka,"ungkapnya.

Menurutnya bagi beberapa orang 'masa lalu' sebagai sesuatu yang pahit atau buruk untuk dikenang maupun dibicarakan. Akan tetapi, setiap orang wajar memiliki luka di masa lalu.
Sebab, kita bukanlah manusia yang selalu sempurna.

"Artinya, setiap orang pasti pernah melukai atau dilukai saat berada di masa lalu tersebut," ujarnya.

Baca Juga: Motif Penganiayaan Hingga Korban Tewas di Eks Terminal Andalas Terungkap

Ayu menjelaskan, setiap orang juga memiliki derajat sakit atau luka batin yang berbeda- beda. Selain derajatnya berbeda, kita juga perlu memperhatikan soal kemampuan individu tersebut melakukan penyembuhan atau self-healing.

Self-healing ini sendiri merupakan sebuah proses penyembuhan diri dari luka batin. Ketika mengalami luka batin, kebanyakan orang ingin menghapuskan memori atau pengalaman pahit tersebut. Dengan menghapusnya, mereka merasa luka batin itu pun akan hilang.

Akan tetapi, kenyataanya memori tersebut tidak bisa dihapus karena sudah masuk ke dalam otak.

"Sebab itu, kita tidak perlu berusaha melupakannya. Namun, menilai ulang luka yang terjadi di masa lalu. Dengan begitu, kita dapat memaknai luka itu melalui cara yang berbeda.

Psikolog yang memiliki kantor praktek di Gorontalo ini mengungkapkan, masih banyak orang yang tidak menyadari luka batin di dalam dirinya. Beberapa dari mereka pun sengaja tidak menyadarinya, sebagai bentuk perlindungan dirinya.

Meski begitu, kita pun tetap perlu menyadari luka batin tersebut agar kesehatan mental terjaga. Oleh sebab itu, Ayu membagikan beberapa cara untuk mengetahui luka batin yang kita alami dan mengobatinya.

Mengenali sumber masalah

Baca Juga: Kejutan di DPRD Kota Gorontalo, Aleg Milineal Mencuat Hingga Posisi Wakil Ketua dari Partai Nasdem

Bicara self-awareness, pasti tidak lepas dari emosi. Kita perlu terkoneksi dahulu dengan emosi yang dimiliki.

Misalnya, kita merasa sudah tidak mood saat keluarga berbicara atau ngomong. Lalu, merasa kerap marah kalau dengan keluarga atau menghindari mereka terus.

"Jangan-jangan diri kita ada problem dengan keluarga. Artinya, ada sesuatu yang tidak pas di hati kita dengan keluarga tersebut," imbuhnya.

Ketua Ibu-Ibu Paguyuban   BWS  Sulawesi II Gorontalo  Ny. Parlinggoman Simanungkalit. bersama ppemateri dan Pengurus (F:ist)
Ketua Ibu-Ibu Paguyuban BWS Sulawesi II Gorontalo Ny. Parlinggoman Simanungkalit. bersama ppemateri dan Pengurus (F:ist)

Jangan fokus pada luka masa lalunya, tapi apa yang menjadi masalah di masa kini. Emosi dan stres yang tidak stabil merupakan masalah paling umum karena kita belum bisa berdamai dengan luka di masa lalu.

Memahami polanya

Setelah menyadari masalah tersebut, kita dapat mencari polanya. Kita tahu dan sadar kapan waktu-waktu menghindar, marah, menangis, maupun senang. Lewat hal tersebut, kita akan teringat mengapa peristiwa pahit itu bisa terjadi di masa lalu.

Namun, terkadang proses penggalian seperti itu cukup sulit dilakukan sendiri. Oleh sebab itu, beberapa orang meminta pertolongan pada psikolog atau orang yang ahli dalam hal
tersebut.

Baca Juga: Kursi Keempat DPD Jadi Rebutan, Dewi Hemeto Terpental Disalip Jasin Dilo, Tony Yunus Mengancam

Membuat jurnal emosi

Setelah memahami pola dan sumber masalahnya, kita bisa membuat sebuah jurnal emosi harian. Lewat cara ini, kita bisa lihat emosi-emosi yang dirasakan sekaligus kapan waktu munculnya.

Jurnal ini akan menjadi semacam indikator untuk mengetahui kapan dan apa sebabnya emosi kita tidak stabil. Indikator ini akan menjadi panduan penting untuk memantau kondisi terkini.

Obati dengan distraksi

Saat emosi dan stres tak stabil, kita bisa mencoba temukan distraksi dengan melakukan banyak hal. Bergabung dengan komunitas baru, berkegiatan di luar rutinitas harian, atau
bisa juga yang paling manjur adalah bermeditasi dengan yoga.

"Pada dasarnya kita tidak dapat melupakan kepahitan di masa lalu. Meski demikian, kita dapat berdamai dengan mereka.

Beranilah untuk menatap pengalaman pahit tersebut dengan sudut pandang baru, karena keberanian itu yang akhirnya akan menjadi pondasi terpenting dalam usaha kita berdamai
dengan masa lalu,"tandasnya.(Mg-02).

Editor : Azis Manansang
#Gorontalo #Paguyuban #BWS Sulawesi II #ibu-ibu #atasi stres