GORONTALOPOST- Antrian kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi pemandangan sehari-hari di Kota Gorontalo. Dua SPBU, yaitu SPBU Andalas dan SPBU Telaga Jaya, mengalami kelangkaan solar bersubsidi yang berdampak pada aktivitas ekonomi dan transportasi di daerah tersebut.
Antrian kendaraan di SPBU Andalas, Kota Gorontalo, semakin parah dalam beberapa hari terakhir. Puluhan truk dan bus kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, sehingga mereka harus rela mengantri sejak pagi hari.
Kendaraan-kendaraan ini berbaris mulai dari simpang tiga antara Jalan Tirtonadi dengan Jalan John Aryo Katili hingga melingkar di kawasan SPBU, serta dari arah simpang empat DPRD Kota hingga SPBU.
Manager SPBU Andalas, Abdul Rahman Djafar, mengungkapkan bahwa kuota solar sebenarnya sudah sesuai, tetapi masalah keterlambatan pengiriman dari Depo Pertamina menjadi penyebab utama antrian panjang. "Solar masuk nanti pukul 11.00 WITA, sehingga pengisian ke kendaraan baru bisa dilakukan siang hari. Hal ini yang menjadi pemicu utama antrian kendaraan," kata Abdul Rahman.
Humas Pertamina Gorontalo, Doddy Angriawan, menyesalkan kondisi ini dan menyarankan agar pihak SPBU lebih baik dalam mengkomunikasikan jadwal pengiriman solar dengan pihak Depot Gorontalo. "Ini hanya masalah komunikasi saja. Jika disepakati pengiriman solar pagi hari, maka seharusnya solar dikirim pagi," ujar Doddy. Ke depan, ia berharap komunikasi yang lebih baik dapat mencegah terulangnya masalah ini.
Sementara itu, di SPBU Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, antrian kendaraan juga menjadi pemandangan sehari-hari. Para sopir truk menginap di sekitar SPBU dari malam hingga pagi hari demi mendapatkan solar bersubsidi, yang telah langka selama hampir sebulan terakhir. Sebagian besar truk yang mengantri adalah truk pengangkut logistik antar provinsi, dan kelangkaan solar ini telah mempengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat.
Petugas SPBU Telaga Jaya mengungkapkan bahwa mereka telah mengurangi jatah pengisian solar bersubsidi sebanyak 100 liter per truk, tetapi langkah ini belum cukup untuk mengurangi panjangnya antrian. Data menunjukkan bahwa pasokan solar dari Pertamina ke setiap SPBU mencapai 8000 kiloliter per hari, tetapi tetap saja tidak mencukupi kebutuhan.
Ironisnya, di tengah kelangkaan solar, masih banyak pedagang eceran yang menjual solar dengan harga lebih tinggi dari harga resmi di SPBU, menambah beban bagi para sopir truk dan masyarakat.
Pemerintah diminta untuk segera turun tangan mencari solusi atas kelangkaan solar ini, sementara Kapolda diharapkan menyelidiki adanya oknum mafia solar yang terkesan dibiarkan tanpa tindakan tegas.
Editor : Priska Watung