Gorontalopost, KUALALUMPUR –Pemerintah daerah memainkan peranan penting dalammenghubungkan kegiatan perekonomian di kawasan BIMP-EAGA.
Dalam menyelaraskan, mendukung, dan memanfaatkan kerja sama dengan mitra pembangunan, pertukaran infomasi dan data, peningkatan kapasitas, serta membangun mekanisme kelembagaan yang stabil untuk CMGLF.
Baca Juga: Menangkan TU-MT di Boalemo Ribuan Siap jadi Relawan
“BIMP-EAGA harus menjadi inisiatif praktis untuk mempersempit kesejangan pembangunan.
Dengan menciptakan peluang ekonomi dan menghubungan kegiatan lintas batas,” ujar Penjabat Gubernur Gorontalo, Rudy Salahuddin, ketika ditunjuk sebagai ketua delegasi Indonesia.
Pada pertemuan 6th Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area Chief Ministers, Governors, and Local Governments’ Forum (BIMP-EAGA CMGLF) berlangsung di Kota Kinabalu Sabah Malaysia, kemarin.
Pada pertemuan itu Pj. Gubernur Gorontalo menyampaikan perkembangan pembangunan Ibu Kota Nusantara yang diharapkan dapat menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
Baca Juga: Rachmat Gobel dan Fadel Muhammad Terpental dari Pimpinan DPR dan MPR
Selain itu Rudy juga memaparkan peluang investasi dan ekonomi, potensi kerja sama, serta peran pemerintah daerah di BIMP-EAGA.
“Peluang investasi di industri berbasis pertanian yang bisa dikembangkan di Provinsi Gorontalo.
Ada sapi potong dengan ketersediaan pakan hijauan unggul di Kabupaten Boalemo dan budidaya rumput laut di Pohuwato. Di Kalimantan Utara ada pengembangan padi Adan dan organik,” paparnya.
Rudy juga mengusulkan BIMP-EAGA membangun destinasi wisata terpadu. Rudy mengungkapkan sejumah destinasi wisata unik di Gorontalo yang bisa dikembangkan.
Diantaranya Pulau Saronde, Lombongo, Benteng Otanah, taman laut Olele, Danau Limboto, dan wisata religi di Desa Bubohu.
Baca Juga: PN Tipikor Vonis Bebas Mantan Kadis PUPR Kota Gorontalo Kasus Korupsi SPAM Dungingi
“Kawasan BIMP-EAGA mempunyai potensi wisata yang unik. Kami mengusulkan untuk menjalin kerja sama antar daerah di bidang pariwisata,” ujarnya.
Lebih lanjut Pj. Gubernur Gorontalo mendorong peningkatan kerja sama dan konektivitas antar wilayah perbatasan, maritim, dan ekspor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor di Pelabuhan Indonesia-EAGA pada tahun 2023 turun sebesar 16 persen dengan nilai USD8.998,34, yang pada tahun sebelumnya
tercatat sebesar USD10.673,09.
Sementara untuk impor di tahun 2023 mencapai USD5.636,02, atau naik dari tahun 2022 sebesar USD3.841,92. (Mg-02/Kmfo).
Editor : Azis Manansang