Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Tarian Longgo, Cerminan Sejarah Perjuangan Masyarakat Gorontalo!

Priska Watung • Kamis, 28 November 2024 | 23:11 WIB
sedang melakukan tarian longgo
sedang melakukan tarian longgo

GORONTALOPOST - Tarian Longgo merupakan salah satu warisan budaya yang sangat berharga dari Gorontalo, Indonesia, yang memiliki akar yang dalam dalam sejarah dan tradisi daerah tersebut. Tarian ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki makna yang dalam sebagai simbol dari keberanian, ketangguhan, dan semangat juang masyarakat Gorontalo. Asalnya berasal dari seni bela diri yang digunakan oleh prajurit kerajaan sebagai pertahanan keamanan, tarian Longgo kini menjadi salah satu tarian tradisional yang penting dalam berbagai acara adat dan perayaan di Gorontalo.

Tarian Longgo berawal dari masa kerajaan, yang dipraktikkan oleh pasukan keamanan kerajaan, khususnya buwatula bala atau pasukan pengawal raja. Tarian ini sering dipentaskan dalam upacara-upacara penting, seperti penyambutan tamu, kunjungan, pemeriksaan wilayah, serta dalam acara perkawinan dan kematian. Para penari yang terlibat dalam tarian ini mengenakan pakaian hitam yang melambangkan kekuatan dan keteguhan hati, serta destar atau payungo berwarna merah yang menunjukkan keberanian dan semangat berperang. Selain itu, penari juga membawa keris di pinggang dan tongkat di tangan kiri, yang semakin menambah kesan kesiapan berperang dalam setiap gerakan yang mereka lakukan.

Sejarah tarian Longgo dimulai pada abad ke-13, ketika terjadinya perkelahian antara dua kelompok besar, Mauba dan Ogale, yang masing-masing dipimpin oleh seorang pemimpin laki-laki dan perempuan. Dari konflik ini, lahirlah tiga seni bela diri Gorontalo, salah satunya adalah Longgo, yang menggambarkan kegesitan dalam memainkan senjata. Tarian ini kemudian diresmikan sebagai bagian dari seni bela diri pada masa Kesultanan Amai, Raja Gorontalo Islam pertama pada abad ke-15, yang juga berhasil mempersatukan kedua kelompok yang sebelumnya berseteru. Tarian Longgo pun menjadi simbol kepahlawanan dan keberanian, yang tidak hanya mewakili perkelahian fisik, tetapi juga semangat persatuan dan perjuangan.

Selain diakui sebagai tari kepahlawanan, Longgo juga dikenal dengan sebutan tari perang, karena dalam setiap gerakannya yang penuh energi, penari seolah-olah sedang berkelahi atau bertempur. Gerakan-gerakan dalam tarian ini, seperti duduta’o, hulopa’o, totame, mongohi, dan bunggato, mengadopsi pola gerak dari seni beladiri Gorontalo, yang menggambarkan kekuatan dan kecepatan dalam bertempur. Tarian Longgo sering kali dipertunjukkan dalam acara-acara resmi, seperti penyambutan atau penobatan pejabat daerah, perayaan Hari Raya Idul Fitri, atau sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh masyarakat, termasuk imam, khotib, bilal, camat, dan kepala desa.

Secara keseluruhan, Tarian Longgo bukan hanya sekadar pertunjukan seni, melainkan juga merupakan simbol dari sejarah dan budaya yang kaya serta semangat juang masyarakat Gorontalo. Melalui tarian ini, nilai-nilai keberanian, ketangguhan, dan persatuan diwariskan dari generasi ke generasi. Meskipun zaman terus berkembang, tarian Longgo tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas budaya Gorontalo, dan terus dilestarikan dalam setiap perayaan dan upacara adat. (Artha)

Editor : Priska Watung
#pakaian #Gorontalo #Adat #juang #warisan #tarian #budaya