Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Penemuan Langka! Warga Gorut Temukan Ikan Purba Coelacanth, Kini Dibawa ke Laboratorium Unsrat

Tina Mamangkey • Senin, 20 Januari 2025 | 19:50 WIB
Penemuan Langka Ikan Coelacanth di Perairan Gorontalo Utara.
Penemuan Langka Ikan Coelacanth di Perairan Gorontalo Utara.

GORONTALOPOST - Baru-baru ini, kabar mengejutkan datang dari perairan Gorontalo Utara, di mana seekor ikan coelacanth ditemukan oleh nelayan setempat. Penemuan ini langsung menjadi perhatian publik, beredar luas di media sosial, dan dibagikan kembali oleh akun X (Twitter) @Coelac**, pada Jumat (17/1/2025).

Menurut laporan awal, ikan purba ini ditemukan di Desa Imana, Kabupaten Gorontalo Utara.

Pengguna akun tersebut menuliskan, "Ikan coelacanth tertangkap di Gorontalo. Ini kasus langka banget, belum tau ke mana dibawa spesimen ini, apakah dikasih ke institusi kelautan lokal atau univ Sam Ratulangi." Kabar terbaru menyebutkan bahwa pakar dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) telah menjemput ikan purba tersebut untuk dibawa ke Manado guna keperluan penelitian lebih lanjut.

Benarkah coelacanth ini benar-benar ikan purba yang hidup sejak zaman dinosaurus? Menurut Gema Wahyudewantoro, Peneliti Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), coelacanth memang benar merupakan ikan purba.

"Diduga ikan ini hidup di zaman sebelum dinosaurus, awalnya ditemukan di perairan Komoro, Latimeria chalumnae, tapi setelah diteliti lebih lanjut itu jenis berbeda, yaitu Latimeria menadoensis di perairan Manado," jelasnya pada Sabtu.

Lebih lanjut, Augy Syahailatua, Peneliti Senior Pusat Riset Oseanografi BRIN, menambahkan bahwa coelacanth pertama kali muncul pada zaman Devonian, sekitar 416 hingga 359 juta tahun yang lalu.

Ikan ini pertama kali ditemukan pada tahun 1938 di perairan Kepulauan Komoro. Sebelum penemuan tersebut, coelacanth dianggap punah, karena fosilnya telah ditemukan sebelumnya, namun tidak ada yang menyangka bahwa ikan ini masih hidup hingga saat ini.

Ikan coelacanth saat ini hanya ditemukan di dua lokasi utama di dunia, yaitu pesisir Afrika Timur dan kawasan Indo-Pasifik. Di Indonesia, ikan purba ini ditemukan di perairan Sulawesi Utara dan Biak, Papua.

Penelitian mengenai coelacanth di Indonesia dimulai secara intensif sejak tahun 2005 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Sam Ratulangi, dan Aquamarine Fukushima, Jepang.

Saat ini, Indonesia memiliki tujuh spesimen ikan coelacanth yang disimpan baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh berbagai lembaga, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, BRIN, Universitas Sam Ratulangi, dan NHK Jepang, mengungkapkan temuan menarik.

Selama dua minggu penelitian di Sulawesi Utara, lebih dari 15 ekor ikan coelacanth ditemukan dalam sebuah gua di kedalaman 160 meter. Penemuan ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar masih banyak individu coelacanth yang hidup di perairan Indonesia.

Meskipun ikan coelacanth masih dapat ditemukan di perairan Indonesia, statusnya sebagai spesies langka yang terancam punah membuatnya dilindungi secara internasional.

Berdasarkan data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), coelacanth digolongkan sebagai spesies yang "vulnerable" atau rentan punah.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2021 yang mengatur perlindungan terhadap jenis ikan ini.

Oleh karena itu, jika ada yang tidak sengaja menangkap ikan coelacanth, sangat disarankan untuk segera melaporkannya kepada pihak terkait agar bisa dijadikan objek penelitian.

Melalui riset tersebut, para peneliti berharap dapat mengungkap alasan mengapa ikan ini bisa bertahan hidup selama jutaan tahun, serta mendapatkan manfaat dari penelitian tersebut untuk kehidupan manusia.

Augy juga mengingatkan agar ikan ini tidak dikonsumsi, karena dagingnya yang berminyak dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare.

Coelacanth memiliki banyak keunikan yang membuatnya menarik perhatian para peneliti. Nama "coelacanth" sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu "coelia" yang berarti berongga dan "acanthos" yang berarti duri, menggambarkan ikan ini sebagai ikan dengan duri berongga.

Coelacanth hidup di kedalaman laut yang sangat dalam, mencapai 701 meter atau sekitar 2.300 kaki di bawah permukaan laut. Ikan purba ini bisa tumbuh hingga dua meter dan memiliki berat hingga 89 kilogram. Peneliti juga memperkirakan bahwa coelacanth bisa hidup hingga 60 tahun atau lebih.

Ikan coelacanth merupakan ikan bersirip lobus, yaitu sirip berdaging yang memanjang dari tubuh dan bergerak bergantian seperti kaki.

Selain itu, coelacanth juga memiliki sendi berengsel di tengkoraknya, memungkinkan mulutnya untuk membuka lebih lebar saat menangkap mangsa berukuran besar.

Keunikan lainnya adalah sisik coelacanth yang lebih tebal dibandingkan dengan ikan lainnya, dengan ukuran sisik yang semakin kecil dari bagian depan ke belakang tubuhnya.

Dengan semua keunikan dan nilai ilmiahnya, ikan coelacanth adalah salah satu spesies yang sangat penting untuk dipelajari lebih lanjut. Penemuan ikan purba ini di perairan Gorontalo Utara mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan melindungi kehidupan laut yang penuh dengan misteri dan potensi ilmu pengetahuan. (mpd)

Editor : Tina Mamangkey
#warga #Gorut #coelacanth #ikan purba #penemuan langka