Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Jejak Kesultanan Yogyakarta di Manado, Makam Permaisuri Sultan HB V Tersimpan di Tengah Kota

Nur Fadilah • Kamis, 27 Februari 2025 | 10:46 WIB
Ilustrasi,makam permausuri dan puitra mahkota kerajaan Yogya di JKalan Diponegoro.
Ilustrasi,makam permausuri dan puitra mahkota kerajaan Yogya di JKalan Diponegoro.

GORONTALOPOST -Ternyata keluarga kesultanan Yogyakarta pernah tinggaldi Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Soal ini beloum banyak yang tahu.

Catatan sejarahnmya pun minim. Tapi bukti ke4sultanan Yogya ada di Manado yakni melalui salah satu petunjuk; makam Kanjeng Ratu Sekar Kedaton. Ia adalah permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) V.

Tak hanya permaisuri, bahkan putra mahkota dari Sultan HB V bernama Gusti Kanjeng Pangeran Arya Suryeng Ngalaga juga dimakamkan di kompleks pekuburan muslim, Kelurahan Mahakeret Barat, Kecamatan Wenang, Manado.

Baca Juga: Rahasia Dibalik Keberhasilan Abon Cap Koki, Mengikuti BRI UMKM EXPO(RT) hingga Tembus Pasar Internasional

Lokasi makam itu di pinggiran salah satu jalan utama Manado. Tepatnnya di Jalan Diponegoro. Bagian depan kompleks pemakaman, ada gapura bertulis "Tempat Pemakaman Permaisuri Sri Sultan HB V ‘Kanjeng Ratu Sekar Kedaton’ yang wafat 25 Mei 1919".

Juga dua papan penunjuk keterangan. Pertama bertuliskan "Objek Wisata Makam Kajeng Ratu Sri Kedaton". Yang satunya lagi bertuliskan "Cagar Budaya Makam Sekar Kedaton".

Lokasi pemakaman ini tak jauh dari Masjid Raya Ahmad Yani Manado. Kompleks itu sedikit mendaki. Seperti bukit. Di sana sudah ratusan pusara, kebanyakan nama-namanya identik dengan suku Jawa.

Bagian tengah area pemakaman berdiri bangunan berbentuk rumah kecil bercat putih atap genting. Keterangan menempel di bagian depan bangunan bertuliskan: "Di sini Dimakamkan Permaisuri Sri Sultan Hamengkobuwono V “Kanjeng Ratu Sekar Kedaton” Wafat 25 Mei 1919. Dan Putranya Gusti Timur Muhammad Suryeng Ngalaga. Wafat 12 Januari 1901".

Nisan keduanya berada di dalam bangunan putih itu. Untuk masuk ke dalam, harus melalui gerbang kecil. Di sisi kiri bangunan putih itu, ada pintu cokelat untuk masuk melihat dua makam di dalamnya.

Di halaman kecil juga terdapat beberapa kuburan. Dari cerita berkembang di masyarakat, kuburan-kuburan di sekitar makam permaisuri dan putra mahkota adalah makam keturunan dan anak cucu mereka.

"Itu komplek pemakaman Kanjeng Ratu. Berdiri lebih dulu karena beliau wafat sekira tahun 1919. Sementara, Masjid Raya Ahmad Yani diresmikan pada 1963 oleh Letjen TNI Ahmad Yani, yang ketika itu menjabat Panglima Angkatan Darat," ujar Nurasyid Ahmad, salah satu warga Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, pada 2017 silam.

Nurasyid mengatakan, sesuai cerita yang dia dengar, permaisuri dan putra mahkota di Manado karena dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda.

"Setelah Sri Sultan Hamengkubuwono V meninggal, terjadi konflik internal di Kesultanan Yogyakarta. Belanda ikut campur, dan membuang permaisuri serta putra mahkota ke Manado," tutur Nurasyid.

Meski berada di jalan protokol, tidak banyak warga Manado yang tahu makam keturunan kesultanan Yogyakarta itu. Hanya mereka yang masih terikat keturunan dari permaisuri dan putra mahkota yang biasanya tahu.

Dulunya pemakaman itu mayoritas didominasi warga dari Jawa. "Tapi belakangan ini sudah bercampur, dan memang pekuburan Muslim. Karena di sana ada makam permaisuri Sri Sultan dan juga putra mahkota.

Informasi lainnya, permaisuri dan dan putra mahkota saat berada di Manado tinggal di Kampung Pondol, Kelurahan Wenang Selatan, Kecamatan Wenang. Jaraknya sekira 400 meter dari kompleks pemakaman.

Keturunan mereka menyebar di beberapa kelurahan di Manado seperti Mahakeret Timur, Mahakeret Barat, Lawangirung, Komo Dalam, Wenang Utara, dan Wenang Selatan.(*)

Editor : Nur Fadilah
#sultan hamengku buwono #Manado #makam