Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

FGD Penataan Aglomerasi Kota Gorontalo, Strategi Baru Redesign Kawasan Urban Menuju Kota Maju dan Terkoneksi

Azis Manansang • Selasa, 25 November 2025 | 10:22 WIB

 

pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema penataan ulang wilayah aglomerasi Kota Gorontalo.(F:Bappeda)
pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema penataan ulang wilayah aglomerasi Kota Gorontalo.(F:Bappeda)

Gorontalopost, GORONTALO-Upaya mempercepat pemerataan pembangunan di Provinsi Gorontalo kembali mendapat momentum.

Melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema penataan ulang wilayah aglomerasi Kota Gorontalo.

Baca Juga: Dukung Talenta Lokal A Night of Radiance Siapkan 140 Hadiah & Panggung Kreatif di FOX Hotel Gorontalo

Forum yang mempertemukan pemerintah daerah dan akademisi ini menjadi arena strategis untuk mengkaji ulang arah kebijakan perkotaan.

Sekaligus memastikan langkah pembangunan selaras dengan visi Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie dalam memperkuat fondasi riset sebagai basis keputusan publik.

FGD yang digelar Bappeda Provinsi Gorontalo bersama para peneliti ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Syarwani Canon.

Forum tersebut menjadi ruang intelektual untuk merumuskan konsep penataan kawasan urban yang realistis, adaptif, dan sesuai kebutuhan masyarakat modern.

Para peserta membedah tantangan kota yang semakin padat, kebutuhan ruang yang meningkat, dan urgensi koordinasi lintas wilayah sebagai solusi jangka panjang.

Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Wahyudin Katili, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa kebijakan pembangunan tidak boleh lagi hanya berdasarkan intuisi.

Menurutnya, setiap langkah pembangunan mesti memiliki dasar ilmiah yang kuat.

“Kita ingin publik memahami bahwa setiap program pemerintah didorong oleh analisis akademik yang matang, bukan sekadar kebijakan reaktif,” ujarnya.

Wahyudin mengungkapkan, diskusi dalam FGD mulai mengarah pada tiga rekomendasi kunci.

Baca Juga: Malam Tahun Baru FOX Hotel Gorontalo Hadirkan ‘A Night of Radiance’ dengan Dua Venue dan 140 Doorprize

Seperti peningkatan tata kelola ruang, antisipasi keterbatasan lahan kota, serta penguatan kolaborasi kabupaten/kota sebagai backbone pembangunan regional.

Ia juga menyoroti sejumlah fasilitas strategis yang sudah tidak mungkin ditampung dalam batas administratif Kota Gorontalo yang semakin sempit.

Fasilitas seperti pelabuhan, terminal peti kemas, hingga kawasan perumahan baru membutuhkan ruang yang lebih luas.

Karena itu, perluasan kawasan dan pembangunan berbasis regional menjadi pilihan logis, termasuk proyek-proyek lintas daerah seperti SPAM Regional.

Di sisi lain, Prof. Syarwani Canon memaparkan bahwa kepadatan penduduk Kota Gorontalo yang mencapai 2.589 jiwa per kilometer persegi.

Telah mendorong urban sprawl ke wilayah Telaga, Tilango, Tapa hingga Kabila.

Kondisi ini mempertegas urgensi desain ulang wilayah aglomerasi kota.

Ia menekankan bahwa Kota Gorontalo harus tampil sebagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial bagi daerah sekitarnya.

"Akan tetapi hal itu hanya bisa dicapai bila ada keselarasan tata ruang dan investasi yang terkoordinasi.

Penurunan luas sawah hingga 144 hektare dalam satu dekade terakhir," tambahnya, menjadi bukti nyata tekanan pembangunan yang perlu diatur dengan pendekatan berbasis bukti.(Anthx).

Editor : Azis Manansang
#Gorontalo #fgd #tata ruang kota #pembangunan #Bappeda Gorontalo #aglomerasi