Gorontalopost, GORONTALO – Penurunan harga sejumlah komoditas pangan
memberikan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi di Provinsi Gorontalo.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juli 2026 daerah ini mengalami deflasi sebesar 0,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, mengatakan penurunan harga barang dan jasa yang paling banyak dikonsumsi masyarakat menjadi penyebab utama terjadinya deflasi.
Menurutnya, karakteristik konsumsi masyarakat Gorontalo membuat pergerakan harga beberapa komoditas pangan sangat menentukan arah inflasi daerah.
"Cabai rawit, tomat, dan bawang merah merupakan komoditas yang memiliki kontribusi besar terhadap pengeluaran masyarakat.
Ketika harga ketiganya turun cukup dalam, dampaknya sangat terasa terhadap angka inflasi sehingga Gorontalo mengalami deflasi pada Juli," ungkap Agus.
Meski secara bulanan mengalami deflasi, secara kumulatif sepanjang tahun hingga Juli 2026, Gorontalo masih membukukan inflasi year to date sebesar 2,83 persen.
Sementara inflasi tahunan atau year on year tercatat sebesar 2,95 persen. BPS juga
mencatat inflasi tahunan
di Kota Gorontalo berada pada angka 2,31 persen, sedangkan Kabupaten Gorontalo
mencapai 3,48 persen.
Data BPS menunjukkan kenaikan harga masih terjadi pada sebagian besar kelompok
pengeluaran masyarakat.
Baca Juga: Hadapi Tekanan Fiskal, Rum Pagau Ajak DPRD Percepat Pembahasan Perubahan APBD Boalemo 2026
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 7,03 persen, diikuti transportasi sebesar 5,72 persen.
Inflasi juga terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, restoran,
perumahan,
rekreasi, kesehatan, informasi dan komunikasi, pendidikan, serta perlengkapan rumah tangga.
Sebaliknya, kelompok pakaian dan alas kaki menjadi satu-satunya kelompok yang
mengalami penurunan harga secara tahunan dengan deflasi sebesar 1,93 persen.(Mg-02).