15 Siswa Ikuti PJJ Gorontalo, Gusnar Siapkan Strategi Khusus untuk Jaring Anak Tidak Sekolah

Azis Manansang • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 06:29 WIB

 

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq meninjau pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di SMA Negeri 1 Gorontalo.(F:Diskominfotik Provinsi)
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq meninjau pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di SMA Negeri 1 Gorontalo.(F:Diskominfotik Provinsi)

Gorontalopost, GORONTALO – Sebanyak 15 siswa dari kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo mulai mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada tahun 2026. 

Program ini diharapkan menjadi jalan keluar untuk memperluas akses pendidikan sekaligus menekan jumlah anak tidak sekolah di daerah.

Pemerintah Provinsi Gorontalo pun menaruh perhatian serius terhadap keberlangsungan program tersebut. 

Baca Juga: Wamen Dikdasmen, Tinjau Program Presiden Prabowo Revitalisasi Pendidikan Gorontalo jadi Perhatian

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menilai keberhasilan PJJ tidak cukup hanya dengan menyediakan sistem pembelajaran, tetapi juga membutuhkan strategi khusus untuk menemukan dan mengajak anak-anak sasaran agar mau kembali belajar.

Gusnar menegaskan pemerintah daerah akan dilibatkan dalam proses penjaringan peserta. 
Menurutnya, anak-anak yang menjadi sasaran PJJ membutuhkan pendekatan yang berbeda sehingga tidak bisa hanya menunggu mereka mendaftar secara mandiri.

“Penjaringan peserta harus dilakukan dengan cara yang lebih aktif. Kita tidak bisa menggunakan mekanisme biasa seperti penerimaan siswa baru. 

Karena itu, pemerintah daerah akan mengambil bagian agar anak-anak yang membutuhkan PJJ benar-benar bisa ditemukan dan diarahkan untuk mengikuti program,” kata Gusnar.

Tidak berhenti pada persoalan peserta, Gusnar juga meminta pengelola PJJ menciptakan pengalaman belajar yang menarik. 

Ia menilai interaksi antarsiswa perlu dibangun sejak awal agar mereka merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas pendidikan.

Salah satu gagasan yang didorong adalah menggelar pertemuan atau gathering secara berkala. 

Baca Juga: Tiga Keluarga Korban Kebakaran di Desa Buti Dapat Santunan Pemkab Boalemo

Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan sosial, membangun kebersamaan dan membuat peserta tidak merasa menjalani proses pendidikan seorang diri.

“Harus ada ruang untuk saling berinteraksi sebelum pembelajaran berlangsung. Sesekali juga perlu ada gathering agar para peserta semakin dekat dan memiliki rasa kebersamaan,” ungkapnya.

Program PJJ tersebut menempatkan SMA Negeri 1 Gorontalo sebagai sekolah induk, dengan dukungan SMA Negeri 2 Limboto dan SMA Negeri 1 Gorontalo Utara sebagai sekolah mitra.

Persiapan program telah dimulai sejak April 2026. Setelah melalui berbagai tahapan persiapan, pembelajaran PJJ resmi dimulai pada 10 Agustus 2026 dan diawali dengan kegiatan MPLS.

Keberadaan PJJ menjadi penting karena pemerintah ingin memastikan anak-anak yang terkendala mengikuti pendidikan melalui jalur konvensional tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh layanan pendidikan.

Dengan keterlibatan pemerintah daerah dalam penjaringan peserta dan penguatan interaksi sosial, Gusnar berharap PJJ dapat berjalan lebih optimal. 

Program tersebut ditargetkan bukan hanya mampu mempertahankan siswa yang sudah terdaftar, tetapi juga membuka akses bagi lebih banyak anak yang masih berada di luar bangku sekolah.(Mg-02).

Editor : Azis Manansang
sma negeri 1 Gorontalo Pendidikan anak tidak sekolah Gusnar Ismail