GORONTALOPOST – Ketersediaan beras di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, dipastikan masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun atau Desember 2026.
Kondisi tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat di tengah musim kemarau yang masih berlangsung. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Gorontalo Utara Ajuba Thalib mengatakan, sejumlah wilayah yang menjadi sentra produksi beras telah berhasil melewati masa panen raya.
"Menghadapi musim kemarau saat ini, kita bersyukur kantong-kantong produksi beras di daerah ini berhasil melalui masa panen raya," kata Ajuba Thalib di Gorontalo Utara, Rabu.
Menurut Ajuba, stok beras saat ini masih mencukupi kebutuhan, terutama untuk masyarakat di wilayah ibu kota kabupaten yang berada di Kecamatan Kwandang. Pemerintah berharap kondisi serupa juga dapat dipertahankan di kecamatan lainnya.
"Kita berharap hal yang sama berhasil dilalui di wilayah kecamatan lainnya," katanya.
Selain stok yang dinilai aman, harga beras di Gorontalo Utara juga masih relatif stabil. Beras medium saat ini berada di kisaran Rp13.500 hingga Rp14.000 per kilogram, sedangkan beras super dijual sekitar Rp18.000 per kilogram.
Sementara itu, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tersedia dengan harga sekitar Rp12.500 per kilogram.
Ajuba mengatakan, keberadaan beras SPHP turut membantu menjaga kestabilan harga beras di wilayah pesisir tersebut. Pemerintah juga berharap penyaluran bantuan pangan yang saat ini masih berlangsung dapat terus menopang ketersediaan sekaligus menjaga harga tetap terkendali.
Kebutuhan beras masyarakat Gorontalo Utara tidak hanya berasal dari produksi lokal. Pasokan juga didatangkan dari sejumlah daerah tetangga, baik dari wilayah lain di Provinsi Gorontalo maupun dari luar daerah.
Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panik menghadapi musim kemarau.
"Kami berharap masyarakat tidak panik, mengingat musim kemarau saat ini juga bertepatan dengan panen raya di sejumlah wilayah kantong produksi beras," katanya.
Bagi sebagian masyarakat, bantuan pangan pemerintah menjadi salah satu penopang penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau.
Nansi Mahmud, salah seorang warga Gorontalo Utara, mengaku bersyukur keluarganya masih menerima bantuan pangan berupa beras dari pemerintah.
"Alhamdulillah kami sekeluarga mendapatkan bantuan pangan dari pemerintah berupa beras sejumlah 10 kilogram per bulan, untuk kebutuhan tiga bulan," katanya.
Nansi berharap program bantuan pangan tersebut dapat terus dilanjutkan, terutama untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan pokok di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Di sisi lain, musim kemarau turut memengaruhi aktivitas warga yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian. Nansi mengaku hingga kini belum kembali beraktivitas di ladang karena mengalami kesulitan memperoleh air.
Ia berharap musim kemarau segera berakhir sehingga masyarakat dapat kembali mengolah lahan, khususnya sawah tadah hujan yang menjadi salah satu sumber penghasilan keluarganya.
"Semoga kemarau segera berakhir agar kami pun bisa kembali menanam, khususnya di sawah tadah hujan yang digarap suami sebagai sumber mata pencaharian dan untuk menopang perekonomian keluarga," katanya.(antara)
Editor : Nur Fadilah