Gorontalopost, GORONTALO – Penurunan harga tomat dan sejumlah bahan pangan lainnya menjadi salah satu faktor utama yang membawa Provinsi Gorontalo kembali mencatat deflasi.
BPS Provinsi Gorontalo mencatat deflasi sebesar 0,34 persen pada Agustus 2026 dibandingkan Juli 2026.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo Agus Sudibyo mengatakan, penurunan harga tersebut terjadi di tengah pergerakan harga yang tidak seragam.
Baca Juga: Polisi Bongkar Aliran Uang Pencurian di Gorontalo, Rp 3,65 Juta Berujung ke Emas dan Marching Band
Sejumlah komoditas mengalami penurunan cukup signifikan, sementara beberapa lainnya justru mengalami kenaikan.
Data BPS menunjukkan kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi faktor paling dominan dalam menekan inflasi. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,76 persen dengan andil -0,28 persen.
“Kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan pengaruh paling besar terhadap deflasi Agustus.
Penurunan harga tomat menjadi salah satu faktor yang paling menonjol,” ujar Agus saat memaparkan Berita Resmi Statistik BPS Gorontalo edisi September 2026, kemarin.
Pemaparan tersebut dilakukan bersama Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Wahyudin A Katili dan Kepala Diskominfotik Provinsi Gorontalo M. Trizal Entengo.
Tomat tercatat sebagai komoditas dengan penurunan harga tertinggi dan memberikan andil -0,56 persen. Bawang merah menyusul dengan andil -0,27 persen.
Penurunan juga terjadi pada harga ikan layang/ikan benggol, bawang putih dan kelompok akademi/perguruan tinggi yang masing-masing memberikan andil -0,06 persen.
Baca Juga: TBC Bisa Menular Diam-Diam, Ismet Mile Minta Warga Bone Bolango Manfaatkan Cek Kesehatan Gratis
Sementara pisang memberikan andil -0,05 persen. Ikan cakalang/ikan sisik serta daging ayam ras masing-masing menyumbang -0,03 persen, sedangkan ikan malalugis/ikan sorihi dan angkutan udara masing-masing -0,02 persen.
Tekanan deflasi juga datang dari kelompok pakaian dan alas kaki yang turun 0,52 persen, dengan andil -0,03 persen.
Kelompok pendidikan bahkan mengalami penurunan sebesar 1,46 persen dan memberikan andil -0,05 persen.
Menurut Agus, salah satu penyebabnya adalah penurunan tarif pendidikan dan kursus selama Agustus dibandingkan Juli 2026.
Di sisi lain, beberapa komoditas masih mengalami kenaikan harga. Cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,26 persen.
Kenaikan juga tercatat pada ikan tuna dan ikan selar/ikan tude masing-masing 0,09 persen, terong 0,05 persen, serta ikan mujair 0,04 persen.
Ketimun, telur ayam ras dan bayam masing-masing memberikan andil 0,03 persen.
Sementara ikan ekor kuning dan ikan teri masing-masing memberikan andil 0,02 persen terhadap inflasi.
Agus menjelaskan, kenaikan sejumlah komoditas tersebut belum mampu mengimbangi tekanan penurunan harga yang terjadi pada komoditas lainnya.
Akibatnya, secara keseluruhan Gorontalo masih mencatat deflasi pada Agustus 2026.
“Secara keseluruhan, penurunan harga lebih dominan dibandingkan kenaikan. Komoditas dengan penurunan harga paling tinggi dalam periode ini adalah tomat,” jelas Agus.
Catatan deflasi tersebut menjadi gambaran terbaru pergerakan harga barang dan jasa di Gorontalo, dengan komoditas pangan masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika inflasi daerah.(Mg-03).
Editor : Azis Manansang