Gorontalopost, GORONTALO – Kebakaran lahan menjadi ancaman yang terus
menghantui Provinsi Gorontalo.
Dalam rentang waktu sekitar satu setengah bulan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo mencatat 77 kejadian kebakaran lahan di sejumlah wilayah.
Data Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Provinsi Gorontalo menunjukkan, puluhan kejadian tersebut tercatat sejak 25 Juli hingga 6 September 2026.
Baca Juga: Cabai Rawit Melejit di Pasar Talumopatu, Naik Rp18 Ribu Jadi Rp130 Ribu per Kg
Kondisi ini menjadi peringatan agar masyarakat semakin waspada terhadap potensi
munculnya titik api, terutama ketika kondisi lingkungan kering dan mudah terbakar.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Gorontalo Rusli W. Nusi melalui Kepala Bidang
Kedaruratan dan Logistik, Hifny Tegela, menyebut angka tersebut harus menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, kelalaian kecil dalam penggunaan api dapat memicu kebakaran yang lebih luas ketika diperburuk kondisi lahan yang kering dan tiupan angin.
“Catatan kejadian ini menunjukkan bahwa kewaspadaan tidak boleh diturunkan. Kami mengingatkan masyarakat
agar menghindari kegiatan yang berpotensi menimbulkan api, karena dalam kondisi kering, api kecil sekalipun dapat cepat menjalar,” kata Hifny, Senin (7/9/2026).
Dari total 77 kejadian tersebut, Kabupaten Bone Bolango menjadi daerah dengan kasus terbanyak, yakni 33 kejadian.
Baca Juga: Polemik Rumah Jawatan Gorontalo Memanas, Adhan Dambea Siapkan Laporan ke Mabes Polri soal Pernyata
Kabupaten Gorontalo berada di urutan berikutnya dengan 23 kejadian, disusul Kota
Gorontalo sebanyak 12 kejadian.
Sementara itu, Kabupaten Gorontalo Utara mencatat tujuh kejadian, Kabupaten Boalemo dua kejadian,
sedangkan Kabupaten Pohuwato tidak mencatat kejadian kebakaran lahan selama periode tersebut.
Dalam menghadapi kejadian kebakaran lahan, BPBD Provinsi Gorontalo tidak bekerja sendiri.
Penanganan dilakukan melalui koordinasi bersama BPBD kabupaten/kota, Dinas
Pemadam Kebakaran, serta unsur TNI/Polri.
Sinergi lintas instansi tersebut diarahkan untuk mempercepat pemadaman sekaligus
mencegah api merembet ke wilayah yang lebih luas.
Hifny menegaskan, kecepatan laporan dan respons di lapangan menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran lahan.
“Begitu ada informasi mengenai titik api, koordinasi harus segera bergerak. Karena itu, keterlibatan seluruh unsur
dan kecepatan respons sangat menentukan agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih besar,” jelasnya.
BPBD juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membakar lahan.
Jika aktivitas tertentu mengharuskan penggunaan api, masyarakat diminta memastikan api telah benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Selain itu, warga diminta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api atau kebakaran lahan.
Langkah cepat dari masyarakat dinilai dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.
Hingga 6 September 2026, kejadian terbaru yang tercatat Pusdalops PB berada di Desa Tinelo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.
Penanganannya melibatkan BPBD Provinsi Gorontalo, BPBD Kabupaten Gorontalo,
Damkar, serta TNI/Polri.
Dengan jumlah yang telah mencapai 77 kejadian, BPBD Provinsi Gorontalo menilai
ancaman kebakaran lahan tidak boleh dianggap sepele.
Kesiapsiagaan petugas harus dibarengi kesadaran masyarakat untuk mencegah munculnya titik api sejak awal.
Rincian kebakaran lahan di Provinsi Gorontalo, 25 Juli–6 September 2026:
Kabupaten Bone Bolango: 33 kejadian
Kabupaten Gorontalo: 23 kejadian
Kota Gorontalo: 12 kejadian
Kabupaten Gorontalo Utara: 7 kejadian
Kabupaten Boalemo: 2 kejadian
Kabupaten Pohuwato: 0 kejadian
Total: 77 kejadian. (Ris).
Editor : Azis Manansang