Dari Polemik ke Musprov, Hendrawan Minta Kadin Gorontalo Kembali Bicara Ekonomi dan Lapangan Kerja

Azis Manansang • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 21:20 WIB

 

Dialog kampus mobile bahas Gonjang-Ganjing Calon Ketua Kadin Provinsi Gorontalo dalam Menyiapkan Talenta Daerah untuk Industri Masa Depan.(F:gpd).
Dialog kampus mobile bahas Gonjang-Ganjing Calon Ketua Kadin Provinsi Gorontalo dalam Menyiapkan Talenta Daerah untuk Industri Masa Depan.(F:gpd).

Gorontalopost, GORONTALO — Masa depan ekonomi Gorontalo dinilai tidak boleh 
tenggelam di tengah polemik kepemimpinan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi  Gorontalo.

Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi Suara Kampus Mobile yang digelar di 
Hungrypedia Kota Gorontalo, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga: Sri Mulyani Lalijo Bawa Nama Bone Bolango ke Forum LTKL 2026, Pimpin Sidang Presidium Nasional 

Forum itu secara khusus membahas “Gonjang-Ganjing Calon Ketua Kadin Provinsi 
Gorontalo dalam Menyiapkan Talenta Daerah untuk Industri Masa Depan.”

Sahmin Madina bertindak sebagai moderator dalam diskusi yang menghadirkan H. 
Ramdan Datau, S.IP., M.AP., Jasin Mohammad, SE., MPA., Feryanto Koniyo, ST., dan Dr.  Zamrony Abdusamad, SH., MH.

Di tengah pembahasan, forum justru banyak menyinggung persoalan administratif dan  legitimasi organisasi. 

Kondisi tersebut kemudian dikritisi Hendrawan Dwikarunia Datukramat, S.Farm., CMSL.,  CSDP., CMC., aktivis sekaligus mantan Presiden BEM UNG 2023.

Hendrawan menilai perdebatan mengenai pengakuan, izin dan klaim dukungan dalam  dinamika pemilihan Kadin jangan sampai menggeser pembahasan mengenai persoalan  ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, Kadin memiliki mandat sebagai wadah dunia usaha dan dasar hukumnya  berasal dari UU Nomor 1 Tahun 1987. 

Dalam praktik kelembagaan, Kadin juga diposisikan sebagai mitra strategis pemerintah  dalam pembangunan ekonomi.

 “Yang perlu dikedepankan sekarang adalah bagaimana Kadin memberi kontribusi bagi  ekonomi daerah. 

Baca Juga: BBM Langka, Brigif Terkendala Lahan hingga Malaria Naik, Rum Pagau Gelar Rapat Forkopimda

Perbedaan internal seharusnya diselesaikan melalui koordinasi dan komunikasi, bukan  dibiarkan menghabiskan energi organisasi,” kata Hendrawan.

Ia secara khusus mempertanyakan argumentasi yang mengaitkan keberadaan Kadin dengan  kewajiban meminta izin kepada pemerintah daerah. 

Hendrawan berpandangan, koordinasi antara Kadin dan pemerintah memang penting,  tetapi menurutnya hal itu tidak serta-merta menjadikan Kadin sebagai bagian dari struktur  pemerintahan.

Pernyataan lain yang menjadi perhatiannya adalah penilaian terhadap kepengurusan Kadin  saat ini yang disebut sebagai “gagal total”.

Hendrawan meminta setiap penilaian terhadap kinerja organisasi didasarkan pada ukuran  yang objektif. 

Ia menilai kepengurusan yang baru berjalan perlu diberikan ruang untuk menunjukkan  program dan kinerjanya sebelum dilakukan evaluasi menyeluruh.

“Jangan menggunakan label gagal tanpa terlebih dahulu menunjukkan indikatornya. 
Kalau memang ada kekurangan, mari ukur berdasarkan kinerja dan program, sehingga  kritik yang disampaikan benar-benar membangun,” ujarnya.

Dalam pandangan Hendrawan, pemerintah daerah dan Kadin seharusnya membangun  hubungan yang saling membutuhkan. 

Kadin dapat memberikan masukan dari perspektif dunia usaha, sementara pemerintah  memiliki kewenangan dalam menciptakan kebijakan dan ekosistem yang mendukung  aktivitas ekonomi.

Ia pun menyinggung pengalaman Kadin DKI Jakarta yang menurutnya menunjukkan  bagaimana organisasi dunia usaha dapat berperan dalam membantu pemerintah  menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan publik.

Baca Juga: Dinkes Gorontalo Sikapi Laporan, Suami Pergoki Istri Bersama Direktur RS di Limba B

“Hubungan Kadin dan pemerintah seharusnya berjalan dalam semangat kemitraan. 
Kadin bisa menjadi problem solver bagi persoalan ekonomi, sementara pemerintah 
menjadi mitra dalam menciptakan ruang usaha yang kondusif,” tuturnya.

Hendrawan selanjutnya meminta seluruh pihak menghormati proses musyawarah Kadin di  tingkat kabupaten dan kota. 

Figur-figur yang telah dipilih melalui mekanisme organisasi, menurut dia, perlu dihormati  agar polemik tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

Fokus berikutnya, kata dia, adalah menyiapkan Musprov Kadin Gorontalo.

Ia berharap Musprov tidak sekadar menjadi forum memilih ketua, tetapi juga menjadi  ruang adu gagasan mengenai arah ekonomi Gorontalo. 

Persoalan tenaga kerja, pengangguran, UMKM, investasi dan daya saing daerah dinilai  perlu ditempatkan sebagai agenda utama.

Soal figur pemimpin, Hendrawan menyebut aspek visi dan integritas perlu menjadi 
perhatian. 

Ia juga menyampaikan pandangan bahwa calon pemimpin Kadin harus memiliki rekam  jejak yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menyisakan persoalan yang dapat  mengganggu kepercayaan terhadap organisasi.

“Kita membutuhkan pemimpin Kadin yang punya visi dan integritas. Pemimpin yang 
terpilih harus mampu menjaga marwah organisasi sekaligus menjawab kebutuhan dunia  usaha dan masyarakat,” tegasnya.

Hendrawan mengatakan generasi muda dan masyarakat kecil tidak membutuhkan 
pertarungan kepentingan yang berkepanjangan. 

Mereka, menurutnya, lebih membutuhkan dampak nyata berupa kesempatan kerja, 
pertumbuhan usaha dan penguatan ekonomi keluarga.

Karena itu, ia mengajak para pemangku kepentingan Kadin menghentikan perdebatan yang  tidak produktif dan mengarahkan organisasi pada kerja konkret.

“Tantangan ekonomi Gorontalo ada di depan mata. Kita perlu menciptakan lapangan  kerja, menekan pengangguran dan memperkuat UMKM. 

Karena itu, Kadin harus kembali berbicara tentang kerja dan gagasan, bukan terus terjebak dalam polemik,” pungkasnya.(Mg-02).

Editor : Azis Manansang
Provinsi Gorontalo Musprov KADIN GORONTALO UMKM polemik