Pulanga untuk Sofyan Puhi, Gusnar Ismail Ingatkan Adat Gorontalo Harus Hidup dalam Keseharian

Azis Manansang • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 14:15 WIB

 

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Ketua TP-PKK Provinsi Gorontalo Nani Ismail Mokodongan, serta Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie. menghadiri   prosesi penganugerahan gelar adat Pulanga kepada Bupati Gorontalo Sofyan Puhi.(F:istimewa)
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Ketua TP-PKK Provinsi Gorontalo Nani Ismail Mokodongan, serta Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie. menghadiri prosesi penganugerahan gelar adat Pulanga kepada Bupati Gorontalo Sofyan Puhi.(F:istimewa)

Gorontalopost, LIMBOTO – Di balik prosesi penganugerahan gelar adat Pulanga kepada  Bupati Gorontalo Sofyan Puhi, tersimpan pesan penting tentang tanggung jawab menjaga  warisan leluhur. 

Bagi Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, adat bukan hanya rangkaian upacara yang 
menghadirkan kemegahan budaya, melainkan nilai yang perlu terus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Pulanga Ta Uwa Lolahuwa untuk Sofyan Puhi, Tradisi Gorontalo yang Mengingatkan Pemimpin pada Rakyat

Pesan itu disampaikan Gusnar saat menghadiri prosesi penganugerahan di Rumah Jabatan  Bupati Gorontalo, Limboto, Sabtu (17/10/2026). 

Ia hadir bersama Ketua TP-PKK Provinsi Gorontalo Nani Ismail Mokodongan, serta Wakil  Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie. 

Penganugerahan tersebut menjadi penghormatan atas pengabdian Sofyan Puhi sekaligus  pengingat akan pentingnya menjaga jati diri masyarakat Gorontalo.

Gusnar menyebut, kekuatan adat Gorontalo telah memberikan kesan tersendiri bagi para  tamu yang berkunjung ke daerah itu. 

Bahkan, dalam berbagai kegiatan berskala nasional, penyelenggaraan adat yang baik  menjadi salah satu pengalaman yang membekas dan terus dikenang oleh tamu kenegaraan.

Namun, ia menekankan bahwa kebanggaan tersebut harus disertai komitmen nyata untuk  merawat tradisi. 

Sebagai daerah yang dikenal dengan julukan Serambi Madinah, Gorontalo memiliki 
tanggung jawab untuk menjaga, mengembangkan, dan meneruskan nilai-nilai adat kepada  generasi berikutnya.

Gelar Pulanga sendiri merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh yang dinilai 
memiliki karya, jasa, dan pengabdian bagi masyarakat. 

Baca Juga: Bendi, Syair Adat, dan Janur Kuning Iringi Pulanga Sofyan Puhi sebagai Tauwa Lo Lahuwa

Di balik penghargaan itu, terdapat amanah moral agar penerimanya tetap menjaga 
kehormatan serta menunjukkan tanggung jawab dalam menjalankan peran kepemimpinan. 

Penganugerahan kepada Sofyan Puhi telah memperoleh kesepakatan melalui Musyawarah  Adat Dulohupa 

oleh para pemangku adat U Duluwo Limo Lopohalaa di Banthayo Poboide, Limboto, 
pada Jumat (9/10/2026), 

dengan mempertimbangkan rekam jejaknya di bidang legislatif dan pemerintahan, 
termasuk pelayanan publik serta pembangunan daerah.

Momentum ini kembali menegaskan bahwa warisan budaya Gorontalo perlu hadir dalam  tindakan, sikap, dan kehidupan bermasyarakat, bukan hanya dalam seremoni. 

Prinsip tersebut sejalan dengan falsafah yang menjadi pegangan masyarakat 
Gorontalo,“Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah,” 

yang menempatkan adat dan nilai agama sebagai landasan kehidupan bersama.(Mg-04).

Editor : Azis Manansang
adat gorontalo Gusnar Ismail tradisi budaya Sofyan Puhi Pulanga