Sejarah Tumbilotohe
Gorontalopost, KONON, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad XV. Pada masa itu lampu penerangan masih terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. Alat penerangan ini di sebut wango.
Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohetutu atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar.
Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa.
Dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut padamala.
Baca Juga: Dugaan Ijazah Palsu Hingga Tes Narkoba Kasus Oknum Caleg DPRD Bonebol Berlanjut ke Rana Hukum
Seiring dengan perkembangan zaman, maka bahan lampu buat penerangan di ganti minyak tanah hingga sekarang ini.
Bahkan untuk lebih menyemarakkan tradisi ini sering ditambahkan dengan ribuan lampu listrik. Tumbilotohe, pateya tohe… ta mohile jakati bubohe lo popatii…..
Kalimat pantun ini sering lantunkan oleh anak – anak pada saat tradisi pemasangan lampu dimulai. Budaya turun temurun ini menjadi ajang hiburan masyarakat setempat.
Malam tumbilotohe benar – benar ramai, bisa di bilang festival paling ramai di Gorontalo.
Apalagi kalo diselenggarakan lomba antar kampung atau kecamatan, Kalau ada foto udara, Anda dapat menyaksikan wilayah gorontalo terang bercahaya.
Baca Juga: Festival Green Tumbilotohe Wujud Nyata Pemprov Gorontalo Pertahankan Kearifan Lokal Ramah Lingkungan
Saat tradisi tumbilotohe di gelar, wilayah gorontalo jadi terang benderang, nyaris tak ada sudut kota yang gelap.
Gemerlap lentera tradisi tumbilo tohe yang digantung pada kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning.
Atau dikenal dengan nama Alikusu (hiasan yang terbuat dari daun kelapa muda) menghiasi kota gorontalo.
Di atas kerangka di gantung sejumlah pisang sebagai lambing kesejahteraan dan tebu sebagai lambang keramahan dan kemuliaan hati menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi menyalakan lampu minyak tanah pada penghujung Ramadhan di Gorontalo, sangat diyakini kental dengan nilai agama.
Baca Juga: Melihat Gemerlap Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo
Dalam setiap perayaan tradisi ini, masyarakat secara sukarela menyalakan lampu dan menyediakan minyak tanah sendiri tanpa subsidi dari pemerintah.
Tanah lapang yang luas dan daerah persawahan di buat berbagai formasi dari lentera membentuk gambar masjid, kitab suci Alquran, dan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona.
Tradisi tumbilitohe juga menarik ketika warga gorontalo mulai membunyikan meriam bambu atau atraksi bunggo dan festival bedug.
Hanya ada di Gorontalo
Tumbilotohe merupakan salah satu kekayaan budaya di Gorontalo yang pantas dikembangkan. Oleh karena itu, tradisi tumbilotohe terus dilestarikan oleh warga gorontalo hingga saat ini.
Baca Juga: Lakantas Jalan Trans Isimu Sopir PNS Kota Gorontalo Alami Micro Sleep
Banyak potensi yang dimiliki Tumbilotohe, salah satunya bisa menyedot kunjungan wisata ke daerah Gorontalo,
karena tradisi Tumbilotohe tidak dijumpai di daerah manapun di wilayah NKRI.
Walaupun daerah - daerah tetangga Provinsi Gorontalo pun turut melaksanakannya seperti daerah bagian utara (Bolmut) yang dikenal dengan nama Maninjulo Lambu.
Dan selatan (Bolsel) yang dikenal dengan nama Sumpilo Soga, tapi semaraknya tidak merata seperti yang ada di provinsi gorontalo.
Baca Juga: Penjagub Gorontalo dan Forkompinda Pantau Pengamanan Idulfitri 1445 H
Tradisi ini pula mendapat respon dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisara Republik Indondesia (Kemenbudpar RI).
Kemenbudpar memberikan dukungan penuh terhadap even religius ini menjadi agenda pariwisata dunia di Gorontalo menjelang Lebaran Idul Fitri.
Bahkan menjamin akan lebih mempopulerkannya ke seluruh dunia, agar Gorontalo menjadi pusat perhatian para wisatawan dunia.(Sumber :Kemenag).
Editor : Azis Manansang