Gorontalopost, MARISA – Suasana di Kantor Bupati Pohuwato mendadak ricuh saat puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)..
Melempari gedung dengan lumpur. Aksi itu dipicu oleh kekecewaan massa karena Bupati Saiful Mbuinga tak kunjung hadir menemui mereka.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Ultimatum Crazy Rich, Stop Kabur dari Pajak, Rp 60 Triliun Harus Masuk Kas Negara
Mahasiswa menuding pemerintah daerah bersikap acuh terhadap aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang kian merusak lingkungan di Pohuwato.
Mereka menilai kerusakan ekosistem, termasuk hutan mangrove, semakin parah karena lemahnya pengawasan.
“Sejak aksi jilid I hingga jilid III, bupati tidak pernah muncul. Kami anggap pemerintah tutup mata,” tegas Korlap aksi, Fikri Papempang.
Dalam orasinya, massa menuding Pemkab Pohuwato seperti membiarkan bahkan ‘berselingkuh’ dengan pelaku usaha tambang ilegal.
Hal ini, menurut mereka, semakin memperburuk kondisi alam daerah.
“Kami muak dengan sikap pemerintah yang terkesan berpihak pada kepentingan bisnis, bukan pada keselamatan lingkungan,” lanjut Fikri.
Rencananya, para pendemo hanya akan ditemui oleh Sekretaris Daerah (Sekda). Namun, massa menolak tawaran tersebut.
Mereka menegaskan bahwa yang ingin mereka hadapi langsung hanyalah bupati.
Baca Juga: Heboh Anak Bupati Bone Bolango Dituduh Terima Suap Rp500 Juta, Ini Klarifikasi Mengejutkan
“Kami butuh solusi nyata dari pemimpin daerah, bukan sekadar perwakilan,” teriak mereka sambil meninggalkan lumpur di halaman kantor bupati.
Tak berhenti di situ, mahasiswa juga bergerak ke depan Kantor DPRD Pohuwato untuk kembali membuang lumpur hasil sedimentasi tambang ilegal.
Setelah itu, massa melanjutkan aksi di titik lain, menandakan perlawanan terhadap kerusakan lingkungan masih berlanjut.(Mg-08)
Editor : Azis Manansang