Gorontalopost, TIBAWA – Tahun 2026 baru saja dibuka, namun gemanya bukan hanya perayaan,
melainkan deru air yang menyapu dua desa di Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo.
Baca Juga: Sungai Paguyaman Mengamuk, Ibu dan Anak Hilang Ditelan Arus saat Pulang dari Kebun
Desa Tunggulo dan Desa Haya-Haya diterjang banjir yang merendam sedikitnya 120 unit rumah,
memaksa warga memulai tahun dengan pel dan ember, bukan harapan yang tenang.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Gorontalo, Taha Buheli, membeberkan
bahwa bencana ini berdampak pada 146 kepala keluarga (KK), atau sekitar 453 jiwa.
Mereka terjebak dalam rutinitas darurat ketika hujan deras mendorong sungai melampaui batas,
dan pemukiman tak lagi sanggup menahan limpasan air.
Bagi warga Tunggulo, banjir datang lebih brutal. Tanggul Marisa yang sempat diperbaiki kembali jebol,
membuat arus tak terhalang dan mengalir ke perkampungan.
Rumah-rumah di bantaran sungai berubah jadi kolam sementara.
Baca Juga: Petik Rica Berujung Tragedi, Longsor Batu Olele Tewaskan Lansia 61 Tahun
“Itu akibat jebol tanggul Marisa, yang sempat kemarin diperbaiki oleh Balai Sungai itu jebol lagi.
Akhirnya airnya meluap menggenangi rumah-rumah masyarakat yang ada di sekitaran Desa Tunggolo,” ujar Taha kemarin.
Meski banjir menelan halaman dan lantai rumah, kabar baik masih berpihak pada keselamatan.
“Alhamdulillah kejadian bencana banjir ini tidak ada korban jiwa,” tandasnya.
Kini, air perlahan surut. Warga mulai mengeringkan rumah, membersihkan lumpur, dan menata ulang kehidupan yang sempat kacau.
BPBD bersiap melanjutkan koordinasi dengan Balai Sungai untuk penanganan tanggul jebol
agar banjir tak kembali menjadi bencana awal tahun berikutnya.(Mg-04).
Editor : Azis Manansang