Gorontalopost, MARISA – Ketegangan mencuat di Kabupaten Pohuwato setelah puluhan massa aksi mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH),
menuntut penanganan serius terhadap dugaan pencemaran air yang merusak areal
persawahan warga.
Aksi tersebut dipicu kondisi sawah yang semakin memprihatinkan akibat sedimentasi dan kualitas air yang menurun drastis.
Dalam orasinya, massa menyampaikan keresahan petani yang kini terancam kehilangan hasil panen.
Mereka menilai pemerintah belum maksimal melakukan pengawasan terhadap limbah yang diduga berasal dari aktivitas tambang di kawasan hulu.
Warga mendesak DLH untuk segera memperketat pengawasan lingkungan dan mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan tambang yang diduga menjadi penyebab polusi.
Bahkan, massa meminta operasional tambang dihentikan sementara sampai pasokan air bersih kembali normal di area persawahan.
Menanggapi tuntutan tersebut, Kepala DLH Pohuwato, Sumitro Monoarfa, memastikan pihaknya akan bergerak cepat dengan melakukan pengecekan langsung di lokasi.
Tim teknis disebut akan mengambil sampel air guna dilakukan pengujian laboratorium untuk memastikan sumber pencemaran.
“Kami ingin persoalan ini ditangani berdasarkan data dan hasil uji ilmiah. Jika ditemukan indikasi pelanggaran lingkungan,
tentu akan ada tindak lanjut sesuai aturan yang berlaku,” kata Sumitro di hadapan massa aksi.
Aksi unjuk rasa berlangsung aman dengan pengawalan aparat kepolisian. Namun,
koordinator aksi menegaskan perjuangan mereka belum selesai.
Warga berjanji terus memantau langkah pemerintah hingga kondisi air irigasi benar-benar pulih dan sawah petani kembali produktif.(Mg-08).
Editor : Azis Manansang