Gorontalopost, GORONTALO – Kesuksesan penyelenggaraan PENAS XVII Petani dan Nelayan Nasional Tahun 2026
tidak berhenti saat panggung utama ditutup dan para peserta meninggalkan Gorontalo.
Justru setelah acara usai, manfaat besar bagi masyarakat mulai terlihat dan siap dirasakan dalam jangka panjang.
Salah satu warisan penting dari ajang nasional tersebut adalah rencana pemanfaatan kawasan Gelar Teknologi PENAS menjadi agrowisata.
Berbagai fasilitas yang telah dibangun di lokasi kegiatan dipastikan tetap dipertahankan dan tidak dibongkar, sehingga dapat terus dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Kabar ini mencuat setelah wawancara yang dilakukan Ilyas Katili dengan Dra. Hj. Lian A.W. Hapulu, M.H., salah seorang pemilik lahan terbesar yang digunakan selama pelaksanaan Gelar Teknologi PENAS.
Keputusan tersebut menjadi sinyal positif bahwa pembangunan yang dilakukan selama event berlangsung tidak akan menjadi bangunan yang terbengkalai setelah kegiatan selesai.
Lebih dari sekadar objek wisata, kawasan eks-PENAS ini berpotensi berkembang menjadi laboratorium pertanian terbuka yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan,
inovasi pertanian, pelatihan sumber daya manusia, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kehadirannya diharapkan mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga sekitar.
Langkah visioner ini menunjukkan bahwa Gorontalo tidak hanya berhasil menjadi tuan rumah kegiatan nasional, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat berkelanjutan yang dapat dinikmati lintas generasi.
Dukungan pemerintah, panitia, petani pemilik lahan, dan seluruh pihak terkait menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kawasan agrowisata tersebut sebagai ikon baru daerah.
"PENAS XVII telah selesai, tetapi manfaatnya baru saja dimulai. Itulah warisan terbaik yang patut kita syukuri dan jaga bersama," ujar mantan Kakanwil Agama Gorontalo Muhajirin Yanis yang kini bertugas di Kaltim. (Mg-02).
Editor : Azis Manansang