Gorontalopost, SUWAWA – Ancaman musim kemarau mulai dirasakan para petani di Kabupaten Bone Bolango.
Ratusan hektare lahan pertanian mengalami kekeringan akibat menurunnya pasokan air, memunculkan kekhawatiran terhadap produktivitas sektor pangan dan stabilitas harga kebutuhan pokok.
Kondisi tersebut diungkapkan Bupati Bone Bolango, Ismet Mile, saat memimpin Rapat Forkopimda di Ruang Kerja Bupati.
Pemerintah daerah menilai dampak kekeringan harus segera diantisipasi agar tidak
berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.
Baca Juga: Heboh Video Perkelahian di SMPN 4 Satap Paguyaman, Berakhir Damai Lewat Mediasi Polisi
Berdasarkan hasil pendataan pemerintah daerah, sedikitnya 218 hektare lahan persawahan terdampak kekeringan.
Sebagian besar berada di Kecamatan Kabila, Tilongkabila, dan Suwawa yang selama ini mengandalkan suplai air dari jaringan Irigasi Alale.
“Ini harus menjadi perhatian bersama karena dapat berdampak langsung pada produksi pertanian.
Jika produksi menurun, tentu akan berpengaruh terhadap ketersediaan pangan dan
berpotensi memicu inflasi,” ungkap Ismet Mile.
Selain sawah, sektor pertanian lainnya juga mulai terdampak. Pemerintah mencatat sekitar 67 hektare tanaman jagung
dan 3,4 hektare lahan cabai mengalami gangguan akibat minimnya ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Sebagai langkah mitigasi, Pemkab Bone Bolango mengerahkan berbagai upaya, termasuk memaksimalkan penggunaan 193 unit pompa air yang telah didistribusikan kepada kelompok tani.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga pasokan air agar lahan pertanian tetap bisa
berproduksi selama musim kemarau berlangsung.
Data pemerintah menunjukkan delapan kecamatan dan 21 desa telah terdampak
kekeringan.
Baca Juga: Pemkab Gorontalo Kenang Almarhum Rachmat Gobel dengan Tadarus Al-Qur’an dan Doa Khusus Hari Ketujuh
Sementara itu, BMKG mengategorikan Bone Bolango sebagai wilayah dengan kondisi agak kering yang juga berpotensi menghadapi krisis air bersih serta risiko kebakaran hutan dan lahan.
“Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan dan langkah-langkah penanganan agar dampak kekeringan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Yang terpenting saat ini adalah memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi dan sektor pertanian tetap produktif,” tandasnya.(Mg-05).
Editor : Azis Manansang