Tolangga, Toyopo hingga Dikili, Menguak Makna Tradisi Walima Gorontalo saat Maulid Nabi

Azis Manansang • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 21:29 WIB

 

Gemerlap hiasan tolangga, lantunan dikili, hingga sajian  tradisional yang dibawa menuju masjid menjadi bagian dari wajah khas perayaan Maulid Nabi di Gorontalo. (F:Diskominfo)
Gemerlap hiasan tolangga, lantunan dikili, hingga sajian tradisional yang dibawa menuju masjid menjadi bagian dari wajah khas perayaan Maulid Nabi di Gorontalo. (F:Diskominfo)

Gorontalopost, GORONTALO — Gemerlap hiasan tolangga, lantunan dikili, hingga sajian  tradisional yang dibawa menuju masjid menjadi bagian dari wajah khas perayaan Maulid  Nabi di Gorontalo. 

Tradisi tersebut dikenal dengan nama Walima, sebuah warisan budaya  yang terus dijaga  masyarakat hingga saat ini.

Walima dilaksanakan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang  jatuh setiap 12 Rabiul Awal. 

Baca Juga: Ismet Mile Relakan Walima untuk Pendzikir, Pesan Perkuat Iman Menggema di Maulid Nabi Bone Bolango

Namun, tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih luas karena menjadi pertemuan antara nilai keagamaan, adat, gotong royong dan kebersamaan masyarakat.

Rangkaian Walima biasanya diwarnai dikili, yakni pembacaan doa dan zikir di masjid. 

Lantunan tersebut menjadi bentuk pujian dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat suasana religius dalam perayaan.

Sementara itu, unsur budaya terlihat jelas melalui tolangga. Keranda atau menara hias  yang terbuat dari kayu atau bambu tersebut dihias dengan berbagai macam kue tradisional. 

Kolombengi, cucur dan sukade menjadi beberapa sajian yang menghiasi tolangga.

Tidak kalah menarik adalah toyopo. Wadah yang dibuat dari anyaman daun kelapa 
tersebut biasanya berisi nasi kuning, lauk-pauk dan aneka kue. 

Kehadiran toyopo melengkapi sajian dalam perayaan Walima.

Baca Juga: Razia Miras di Telaga Biru, Polisi Amankan Puluhan Botol Cap Tikus hingga Bir Bintang

Ketika persiapan selesai, tolangga kemudian dipikul dan diarak bersama-sama menuju  masjid. Masyarakat dari berbagai kalangan ikut ambil bagian dalam arak-arakan tersebut. 

Inilah salah satu momen yang membuat Walima terasa sebagai perayaan bersama, bukan  hanya kegiatan kelompok tertentu.

Sesampainya di masjid, rangkaian doa dan zikir dilaksanakan. Setelah selesai, makanan  dan kue yang terdapat dalam tolangga didoakan sebelum kemudian dibagikan kepada  jamaah dan masyarakat.

Tradisi berbagi itu memiliki makna tersendiri. Selain menjadi simbol keberkahan, 
pembagian makanan juga memperkuat silaturahmi dan hubungan sosial antarwarga.

Jika ditelusuri lebih jauh, Walima merupakan salah satu gambaran bagaimana masyarakat  Gorontalo memadukan ajaran Islam dengan adat yang berkembang di daerah. 

Tradisi tersebut telah diwariskan sejak masuknya ajaran Islam dan terus dipertahankan  hingga sekarang.

Pelestarian Walima menjadi penting di tengah perubahan zaman. Generasi muda tidak  hanya perlu mengenal nama tradisinya, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di  dalamnya.

Walima pada akhirnya bukan sekadar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia telah  tumbuh menjadi bagian dari identitas masyarakat Gorontalo

sebuah tradisi yang menyatukan agama, budaya, rasa syukur, gotong royong dan 
kebersamaan dalam satu perayaan.(Mg-02)

Editor : Azis Manansang
Gorontalo walimah maulid nabi tradisi budaya lokal