11 Ton Bahan Baku hingga 127 Tulanga, Festival Walima Bongo Jadi Magnet Ekonomi dan Budaya

Azis Manansang • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:21 WIB

 

Suasana Festival Walima di Desa Bongo Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo.(F:gpd)
Suasana Festival Walima di Desa Bongo Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo.(F:gpd)

Gorontalopost, BATUDA'A PANTAI — Festival Walima di Desa Bongo, Kecamatan 
Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, tak hanya menyuguhkan kemeriahan peringatan  Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Di balik tradisi yang diwariskan turun-temurun itu, berputar pula aktivitas ekonomi 
masyarakat dalam skala besar.

Hal tersebut terlihat dari tingginya kebutuhan bahan baku untuk pelaksanaan Festival  Walima 1448 Hijriah/Tahun 2026. 

Baca Juga: Perkemahan SWBB Gorontalo Berakhir, Sofyan Puhi Titip Pesan: Semangat Pramuka Jangan Ikut Dibongka

Bupati Gorontalo Sofyan Puhi menyebut sekitar 11 ton gula dan tepung terigu digunakan  dalam kegiatan yang dipusatkan di Masjid At-Taqwa, Desa Bongo, Minggu (30/8/2026).

Besarnya kebutuhan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah tradisi budaya dapat  menciptakan efek ekonomi bagi masyarakat. 

Kehadiran ribuan warga dari berbagai daerah di Provinsi Gorontalo juga membuat 
kawasan festival dipenuhi aktivitas perdagangan.

Pedagang dan pelaku UMKM memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak  di sekitar lokasi kegiatan. 

Bagi pemerintah daerah, kondisi ini menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan  beriringan dengan pengembangan ekonomi lokal.

"Festival Walima memberikan dampak yang luas. Tidak hanya menjaga tradisi dan 
memperkuat wisata religi,

kegiatan ini juga membuka ruang usaha bagi masyarakat karena  banyak pengunjung yang datang dan berbelanja," kata Sofyan.

Baca Juga: Penghargaan IKD 2026 Jadi Pemacu Bone Bolango Perkuat Infrastruktur dan Inovasi Daerah

Namun, bagi Sofyan, nilai terbesar Festival Walima tidak hanya dapat diukur dari sisi 
ekonomi. 

Tradisi tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Gorontalo  sekaligus  sarana memperkenalkan nilai agama dan budaya kepada generasi muda.

Ia menilai tradisi Maulid Nabi di Desa Bongo dapat menjadi benteng budaya ketika 
masyarakat menghadapi perubahan zaman dan pengaruh globalisasi. 

Karena itu, pelestarian tradisi dinilai sejalan dengan upaya pemerintah daerah membangun  sumber daya manusia yang unggul dengan tetap berpijak pada agama dan budaya lokal.

"Generasi muda perlu terus diperkenalkan dengan tradisi dan nilai keagamaan agar 
kemajuan zaman tidak membuat mereka kehilangan jati diri. 

Dari kegiatan seperti inilah nilai budaya dan akhlak dapat terus ditanamkan," ujar Sofyan.

Kemegahan Festival Walima terlihat melalui parade 127 Tulanga yang berasal dari 
sejumlah masjid maupun dukungan para donatur. 

Usungan kue Walima tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam perayaan Maulid  Nabi di Desa Bongo.

Selain menjadi bagian dari ritual budaya dan keagamaan, kegiatan tersebut juga 
mempertemukan masyarakat dari berbagai wilayah. 

Doa bersama untuk keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan Kabupaten Gorontalo  mengawali rangkaian kegiatan.

Sofyan berharap Festival Walima Desa Bongo dapat terus dipertahankan dan 
dikembangkan sebagai wisata religi berbasis budaya. 

Menurutnya, keberlanjutan tradisi akan semakin berarti apabila mampu menjaga nilai  agama dan budaya sekaligus menciptakan manfaat nyata bagi perekonomian warga.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Gorontalo, Sekretaris Daerah, Ketua DPRD 
Kabupaten Gorontalo, 

Ketua dan Wakil Ketua TP-PKK Kabupaten Gorontalo, anggota DPRD, pimpinan OPD,  serta tokoh adat dan tokoh masyarakat.(Mg-04).

Editor : Azis Manansang
Gorontalo walimah Bubohu Maulid Nabi Muhammad SAW Bongo