Gorontalopost, BATUDA'A PANTAI — Festival Walima di Desa Bongo, Kecamatan
Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, tak hanya menyuguhkan kemeriahan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Di balik tradisi yang diwariskan turun-temurun itu, berputar pula aktivitas ekonomi
masyarakat dalam skala besar.
Hal tersebut terlihat dari tingginya kebutuhan bahan baku untuk pelaksanaan Festival Walima 1448 Hijriah/Tahun 2026.
Baca Juga: Perkemahan SWBB Gorontalo Berakhir, Sofyan Puhi Titip Pesan: Semangat Pramuka Jangan Ikut Dibongka
Bupati Gorontalo Sofyan Puhi menyebut sekitar 11 ton gula dan tepung terigu digunakan dalam kegiatan yang dipusatkan di Masjid At-Taqwa, Desa Bongo, Minggu (30/8/2026).
Besarnya kebutuhan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah tradisi budaya dapat menciptakan efek ekonomi bagi masyarakat.
Kehadiran ribuan warga dari berbagai daerah di Provinsi Gorontalo juga membuat
kawasan festival dipenuhi aktivitas perdagangan.
Pedagang dan pelaku UMKM memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak di sekitar lokasi kegiatan.
Bagi pemerintah daerah, kondisi ini menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi lokal.
"Festival Walima memberikan dampak yang luas. Tidak hanya menjaga tradisi dan
memperkuat wisata religi,
kegiatan ini juga membuka ruang usaha bagi masyarakat karena banyak pengunjung yang datang dan berbelanja," kata Sofyan.
Baca Juga: Penghargaan IKD 2026 Jadi Pemacu Bone Bolango Perkuat Infrastruktur dan Inovasi Daerah
Namun, bagi Sofyan, nilai terbesar Festival Walima tidak hanya dapat diukur dari sisi
ekonomi.
Tradisi tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Gorontalo sekaligus sarana memperkenalkan nilai agama dan budaya kepada generasi muda.
Ia menilai tradisi Maulid Nabi di Desa Bongo dapat menjadi benteng budaya ketika
masyarakat menghadapi perubahan zaman dan pengaruh globalisasi.
Karena itu, pelestarian tradisi dinilai sejalan dengan upaya pemerintah daerah membangun sumber daya manusia yang unggul dengan tetap berpijak pada agama dan budaya lokal.
"Generasi muda perlu terus diperkenalkan dengan tradisi dan nilai keagamaan agar
kemajuan zaman tidak membuat mereka kehilangan jati diri.
Dari kegiatan seperti inilah nilai budaya dan akhlak dapat terus ditanamkan," ujar Sofyan.
Kemegahan Festival Walima terlihat melalui parade 127 Tulanga yang berasal dari
sejumlah masjid maupun dukungan para donatur.
Usungan kue Walima tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam perayaan Maulid Nabi di Desa Bongo.
Selain menjadi bagian dari ritual budaya dan keagamaan, kegiatan tersebut juga
mempertemukan masyarakat dari berbagai wilayah.
Doa bersama untuk keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan Kabupaten Gorontalo mengawali rangkaian kegiatan.
Sofyan berharap Festival Walima Desa Bongo dapat terus dipertahankan dan
dikembangkan sebagai wisata religi berbasis budaya.
Menurutnya, keberlanjutan tradisi akan semakin berarti apabila mampu menjaga nilai agama dan budaya sekaligus menciptakan manfaat nyata bagi perekonomian warga.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Gorontalo, Sekretaris Daerah, Ketua DPRD
Kabupaten Gorontalo,
Ketua dan Wakil Ketua TP-PKK Kabupaten Gorontalo, anggota DPRD, pimpinan OPD, serta tokoh adat dan tokoh masyarakat.(Mg-04).
Editor : Azis Manansang