Kasus Malaria Desa Lamu Mengkhawatirkan, 11 Warga Positif dan Satu Pasien Meninggal

Azis Manansang • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 10:29 WIB
Tim kesehatan bersama Puskesmas Batudaa Pantai kini turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan pencarian kasus secara aktif.(F:Diskominfo)
Tim kesehatan bersama Puskesmas Batudaa Pantai kini turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan pencarian kasus secara aktif.(F:Diskominfo)

Gorontalopost, LIMBOTO – Kasus malaria ditemukan di Desa Lamu, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. 

Sebanyak 11 warga teridentifikasi mengidap penyakit tersebut, sementara satu pasien meninggal dunia setelah mengalami malaria falciparum berat dengan sejumlah komplikasi.

Temuan tersebut langsung mendapat perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo. 

Baca Juga: Dari 189 Masjid, PCNU Bone Bolango Siapkan Kelanjutan Safari Keagamaan hingga Periode 2031

Tim kesehatan bersama Puskesmas Batudaa Pantai kini turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan pencarian kasus secara aktif.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Afriyani Katili mengungkapkan, warga yang terpapar malaria diketahui memiliki riwayat perjalanan atau aktivitas dari kawasan penambangan.

Respons cepat dilakukan setelah Dinas Kesehatan menerima instruksi Bupati Gorontalo melalui telepon seusai salat Subuh. 

Arahan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan koordinasi bersama Bidang P2 dan Puskesmas Batudaa Pantai.

“Setelah mendapat instruksi Bupati, kami langsung menggerakkan tim dan melakukan koordinasi untuk memastikan kasus segera ditindaklanjuti,” ungkap Afriyani.

Rangkaian pemeriksaan terhadap warga telah dilakukan sejak 20 September. Empat orang yang datang ke Puskesmas Batudaa Pantai pada hari itu dinyatakan positif malaria.

Sehari berselang, pemeriksaan kembali dilakukan terhadap enam warga lainnya. Dari pemeriksaan tersebut, beberapa pasien membutuhkan perawatan melalui rawat inap.

Salah satu pasien bahkan datang dalam kondisi berat sehingga harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif.

Baca Juga: Delapan Bagian Setda Kabupaten Gorontalo Satukan Langkah, Sugondo: Jangan Bekerja Sendiri-sendiri

Namun kondisi pasien terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada 23 September.

“Pasien tersebut mengalami malaria falciparum berat dan kondisinya diperberat komplikasi berupa sepsis, gagal napas, serta hipoalbuminemia,” jelas Afriyani.

Dinkes Kabupaten Gorontalo kini memperluas upaya penelusuran dengan melakukan active case finding. 

Petugas mencari kemungkinan adanya warga lain yang mengalami paparan atau memiliki faktor risiko agar pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Untuk penanganan lingkungan berupa penyemprotan atau spraying, Afriyani menyebut keputusan belum dilakukan. 

Dinas Kesehatan masih menunggu rekomendasi resmi yang akan disusun berdasarkan hasil penyelidikan tim medis di lapangan.

Di tengah penanganan kasus tersebut, masyarakat diminta tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan. 

Gejala seperti demam, menggigil dan sakit kepala menjadi tanda yang perlu diperhatikan, terutama bagi warga yang memiliki riwayat aktivitas di kawasan pertambangan.

“Kalau muncul gejala tersebut, jangan menunggu kondisi memburuk. Segera datang ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat untuk menjalani pemeriksaan,” pesan Afriyani.(Mg-04).

Editor : Azis Manansang
Gorontalo Dinkes Gorontalo Batudaa Pantai KABUPATEN GORONTALO malaria