Soroti Erosi dan Banjir Akibat Pengelolaan Lahan, Wabup Boalemo Ajak Petani Terapkan Sistem Agroforestry

Azis Manansang • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 17:23 WIB

 

Forum Group Discussion (FGD) Pengolahan Aset Lahan 

Pertanian Berkelanjutan melalui Sistem Usaha Tani Konservasi dan Agroforestry yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Boalemo, Lahmudin Hambali, S.Sos., M.Si., di Desa Balate Jaya, Kecamatan Paguyaman.(F:Diskminfo)
Forum Group Discussion (FGD) Pengolahan Aset Lahan Pertanian Berkelanjutan melalui Sistem Usaha Tani Konservasi dan Agroforestry yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Boalemo, Lahmudin Hambali, S.Sos., M.Si., di Desa Balate Jaya, Kecamatan Paguyaman.(F:Diskminfo)

Gorontalopost, TILAMUTA – Ancaman kerusakan lingkungan akibat pengelolaan lahan  yang tidak memperhatikan prinsip konservasi menjadi perhatian serius Pemerintah  Kabupaten Boalemo. 

Untuk menjawab tantangan tersebut, Wakil Bupati Boalemo Lahmudin Hambali membuka  Forum Group Discussion (FGD) 

Pengolahan Aset Lahan Pertanian Berkelanjutan melalui Sistem Usaha Tani Konservasi  dan Agroforestry di Desa Balate Jaya, Kecamatan Paguyaman.

Baca Juga: Satreskrim Polresta Gorontalo Kota Tahan Terduga Pelaku Pencabulan Anak di Limba B

Forum yang diinisiasi Badan Pertanahan itu menghadirkan berbagai pemangku 
kepentingan, mulai dari pimpinan OPD terkait, unsur kecamatan, 

pemerintah desa hingga kelompok tani yang selama ini mengelola lahan pertanian di  kawasan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Lahmudin Hambali menegaskan pentingnya menjaga keberadaan  lahan pertanian produktif agar tidak beralih fungsi secara masif. 

Menurutnya, perlindungan lahan pertanian menjadi fondasi utama dalam menjaga pasokan  pangan dan keberlangsungan sektor pertanian di Boalemo.

“Aset lahan pertanian berkelanjutan harus kita lindungi dari alih fungsi lahan yang tidak  terkendali guna menjamin kedaulatan pangan daerah.”

Ia menjelaskan bahwa konsep agroforestry dan usaha tani konservasi merupakan 
pendekatan yang mampu menghadirkan manfaat ganda, 

yakni meningkatkan nilai ekonomi lahan sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. 

Sistem tersebut juga dinilai efektif dalam mengurangi risiko erosi yang sering terjadi di  kawasan perbukitan dan dataran tinggi.

“Banyak masyarakat yang mengelola lahan dataran tinggi, tidak menyadari bahwa 
mengelola lahan dataran tinggi mengakibatkan erosi dan banjir, 

Baca Juga: Babak Baru Kepastian Hukum dan Tata Cara Pemungutan PPh di Jagat E-Commerce

kemudian Pemerintah yang disalahkan, padahal itu ulah mereka yag tidak bertanggung  jawab," ujar Wabup.

Melalui forum diskusi tersebut, pemerintah berharap lahir berbagai rekomendasi dan  strategi konkret yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. 

“Olehnya itu, melalui Forum Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan oleh Badan 
Pertanahan ini,

mari kita memberikan masukan dan ide - ide, sehingga strategi yang kita  susun dapat diimplementasikan dengan baik di lapangan,”tandasnya.(Mg-07).

Editor : Azis Manansang
Agroindustri Kelapa Ketahanan pangan 2025 lahan pertanian Lahmudin Hambali boalemo gorontalo