Gorontalopost, KABILA — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mendapat perhatian serius di Bone Bolango.
Di tengah potensi kemarau panjang, aparat gabungan diminta tidak memberi kesempatan kepada api untuk berkembang.
Satu jam pertama menjadi waktu krusial yang harus dimanfaatkan untuk menghentikan kebakaran sejak dini.
Baca Juga: Lahmudin Hambali Minta ASN Boalemo Berbenah, HUT ke-27 Jadi Momentum Evaluasi dan Aksi Sosial
Penegasan itu disampaikan Dandim 1304/Gorontalo Letkol Inf Jon Patar Hasudungan Banjarnahor dalam apel gelar pasukan kesiapsiagaan penanggulangan karhutla di Lapangan Alun-Alun Bone Bolango.
Bupati Bone Bolango Ismet Mile turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Jon Patar meminta seluruh unsur yang terlibat tidak menganggap apel sebagai akhir dari kesiapsiagaan.
Menurutnya, kesiapan baru benar-benar diuji ketika laporan titik api diterima. Pada saat itulah personel harus segera bergerak sebelum kobaran meluas.
“Begitu ada laporan titik api, segera lakukan pemadaman cepat. Ingat, satu jam pertama sangat menentukan luas kebakaran,” tegasnya.
Untuk mempersempit peluang terjadinya karhutla, patroli di kawasan rawan perlu ditingkatkan.
Masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pencegahan, khususnya dengan tidak menggunakan api untuk membuka ataupun membersihkan lahan.
Baca Juga: Polda Gorontalo Tetapkan Kasus Eks Jawatan Kantor Pos Naik Penyidikan, Aparatur Pemkot Mulai Diperik
Namun, kesiapan personel saja tidak cukup. Penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas sektor agar setiap laporan dapat ditindaklanjuti tanpa keterlambatan.
TNI, Polri, BPBD, Basarnas, pemerintah daerah, perusahaan dan masyarakat harus berada dalam satu pola penanganan.
“Kita harus satu komando, satu tujuan untuk zero karhutla,” ujarnya.
Dandim juga mengingatkan bahwa kecepatan menghadapi api tidak boleh mengorbankan keselamatan petugas.
Setiap personel yang diterjunkan ke lokasi kebakaran harus menggunakan perlengkapan pelindung diri dan memperhitungkan kondisi lapangan.
“Pulang dengan selamat adalah tugas kita juga,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menyebut dampak karhutla jauh melampaui kawasan yang terbakar. Asap kebakaran dapat mengancam kesehatan warga,
sementara kerusakan lingkungan, terganggunya penerbangan dan aktivitas ekonomi menjadi risiko lain yang harus diantisipasi.
Atas dasar itu, strategi menghadapi karhutla tidak boleh hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar.
Pencegahan harus diperkuat sejak awal melalui patroli, edukasi dan pengawasan, disertai penegakan hukum terhadap pembakaran yang dilakukan dengan sengaja maupun karena kelalaian.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kebakaran tidak menjadi siklus yang terus berulang dan target zero karhutla benar-benar dapat diwujudkan di wilayah Bone Bolango.(Mg-05).
Editor : Azis Manansang