Gorontalopost, SUWAWA – Pencegahan perkawinan anak di Kabupaten Bone Bolango membutuhkan gerakan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Pemerintah daerah mendorong Tim Relawan SAPA Integrasi Pencegahan Perkawinan Anak menjadi motor edukasi dan pendampingan hingga ke tingkat desa.
Baca Juga: Wakaf Tempat Ibadah di Boalemo Diperkuat Legalitas, Lahmudin Minta Kades Ikuti Sidang hingga Tunta
Pesan itu disampaikan Bupati Bone Bolango Ismet Mile ketika membuka Bimbingan
Teknis (Bimtek) Ruang Bersama Indonesia (RBI)
dan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) bagi Tim Relawan SAPA Integrasi Pencegahan Perkawinan Anak tingkat Kabupaten Bone Bolango 2026, Kamis (8/10/2026).
Bagi Ismet, bimtek bukan tujuan akhir. Kegiatan tersebut harus menjadi titik awal lahirnya langkah nyata
untuk memperkuat kesadaran keluarga dan mencegah anak masuk dalam perkawinan pada usia dini.
Ia meminta seluruh pengetahuan yang diperoleh peserta selama pelatihan diteruskan kepada masyarakat.
Dengan begitu, konsep RBI tidak hanya menjadi materi dalam forum pertemuan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan keluarga.
“Yang penting setelah kegiatan ini ada hasil dan tindak lanjutnya. Sampaikan kepada
pemerintah daerah agar bisa dilihat kemungkinan dukungannya melalui program
pemerintah,” kata Ismet.
Ismet menilai upaya perlindungan anak membutuhkan kerja bersama. Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri tanpa dukungan relawan,
Baca Juga: Gudang di Dumbayabulan Digerebek, 123 Karung Diduga Batu Hitam Kini di Mapolres Bone Bolango
pemerintah desa, keluarga, lingkungan sosial, serta lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap perempuan dan anak.
Karena itu, ia meminta Tim Relawan SAPA mengambil peran lebih besar di lapangan.
Relawan diharapkan mampu menjadi penghubung edukasi dan pendampingan sehingga pesan pencegahan perkawinan anak dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
“Saya mendukung. Jangan hanya berada dalam forum ini, tetapi gerakannya harus
diteruskan ke ruang-ruang masyarakat dan sampai ke tingkat bawah,” ujar Ismet.
Menurutnya, keluarga menjadi salah satu bagian penting dalam upaya tersebut. Kesadaran orang tua dan lingkungan sekitar perlu diperkuat
agar anak tetap mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan serta tumbuh dalam suasana yang aman dan mendukung.
Ismet menegaskan, tantangan sebenarnya adalah memastikan seluruh gagasan yang dibahas dalam bimtek dapat diwujudkan setelah kegiatan berakhir.
Program yang lahir dari konsep RBI harus memiliki dampak nyata dan mampu mempercepat upaya pencegahan perkawinan anak di Bone Bolango.
“Kita membutuhkan keterlibatan semua pihak agar gerakan ini bisa dipercepat dan RBI segera terwujud di Kabupaten Bone Bolango,” tegasnya.
Pendekatan tersebut diharapkan memperkuat upaya Pemerintah Kabupaten Bone Bolango dalam membangun perlindungan anak yang tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah, tetapi juga melibatkan keluarga dan komunitas.
Baca Juga: Tambang Saripi Memanas, Oknum Security PT PG Gorontalo Diduga Bawa Parang dan Bongkar Talang
Dengan demikian, ukuran keberhasilan program bukan sekadar terselenggaranya bimtek, melainkan sejauh mana relawan
dan seluruh unsur yang terlibat mampu membawa edukasi, pendampingan, dan pencegahan perkawinan anak hingga ke tingkat keluarga dan desa.(Mg-05).
Editor : Azis Manansang