Gorontalopost, BULANGO – Pekarangan rumah berpeluang menjadi lebih dari sekadar ruang kosong.
Jika dikelola secara produktif, lahan di sekitar rumah dapat menyediakan bahan
pangan bergizi,
mengurangi kebutuhan belanja keluarga, bahkan membuka peluang usaha bagi perempuan.
Baca Juga: Nasib Petani Pisang Gapi Jadi Perhatian, Sofyan Puhi Minta Hasil Program UPLAND Terus Menghasilkan
Gagasan inilah yang mulai dikembangkan Pemerintah Kabupaten Bone Bolango melalui program Kebun Pangan Perempuan (KPP) di Desa Ayula Selatan, Kecamatan Bulango Selatan.
Program yang disiapkan sebagai proyek percontohan tersebut diarahkan untuk
memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendorong kemandirian ekonomi perempuan.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Aktivasi Ruang Bersama Indonesia (RBI), sebuah kegiatan kolaboratif yang didukung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) RI.
Langkah awal pengembangan program dibahas dalam rapat koordinasi pemberdayaan perempuan di Naffil Cafe & Resto, Jumat (16/10/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi pemerintah daerah, pemerintah kecamatan dan desa, serta mitra masyarakat untuk menyamakan pemahaman dan menyusun dukungan bagi pelaksanaan Kebun Pangan Perempuan.
Mitra masyarakat yang terlibat adalah LM Yayasan Ma’arif, di bawah kepemimpinan Marni Nisabu.
Sejumlah unsur hadir dalam koordinasi tersebut, di antaranya Kepala Dinas Sosial P3A PPKB, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Camat Bulango Selatan,
Baca Juga: Buka Jalan Anak Berprestasi ke SNT 6, Bone Bolango Bidik Sekolah Unggulan di Tiap Kecamatan
Kepala Desa Ayula Selatan, tim Yayasan Ma’arif, serta tim PPPA dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bone Bolango.
Keterlibatan lintas sektor ini diarahkan untuk memastikan perempuan mendapat dukungan dalam memanfaatkan lahan,
memilih tanaman yang sesuai dengan kondisi wilayah, dan mengembangkan kegiatan pertanian produktif.
Program ini tidak hanya berorientasi pada tersedianya bahan pangan bagi keluarga.
Hasil kebun juga berpotensi diolah menjadi produk lokal yang memiliki nilai jual, sehingga aktivitas menanam dapat berkembang menjadi peluang ekonomi.
Untuk itu, pengembangan KPP dirancang melalui tiga fokus: memperkuat ketahanan pangan dan gizi keluarga,
meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan, serta menjaga keberlanjutan tanaman dan kuliner khas lokal.
Jika berjalan sesuai harapan, Kebun Pangan Perempuan di Ayula Selatan dapat menjadi contoh pemanfaatan potensi lokal
untuk menjawab kebutuhan keluarga sekaligus membuka peluang usaha.
Dukungan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan lembaga masyarakat diharapkan membuat program ini berkelanjutan serta dapat diterapkan di wilayah lain di Bone Bolango.
Melalui inisiatif tersebut, perempuan ditempatkan sebagai pelaku utama yang turut menentukan ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi keluarganya.(Mg-05).
Editor : Azis Manansang