Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Aksi Tolak Tenaga Kerja Asing Ricuh di DPRD

Administrator • Jumat, 17 Juli 2020 | 05:07 WIB
TUNTUT: Kedatangan   TKA   untuk   pembangunan   PLTU   Sulbagut   I didemo Aliansi Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat Gorontalo (AMPRG) di DPRD Provinsi Kamis (16/7/2020).
TUNTUT: Kedatangan TKA untuk pembangunan PLTU Sulbagut I didemo Aliansi Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat Gorontalo (AMPRG) di DPRD Provinsi Kamis (16/7/2020).
GORONTALO - Aliansi Mahasiswa,  Pemuda  dan  Rakyat  Gorontalo  (AMPRG)  menggelar  aksi  massa  di  Kantor  Dewan  Perwakilan  Rakyat  Daerah  (DPRD)  Provinsi  Gorontalo,  Kamis  (16/7/2020).  Massa  aksi menolak rencana kedatangan tenaga kerja  asing  (TKA)  asal  China  di  Bumi  Serambi Madinah.Aksi ini sempat diwarnai aksi  saling  dorong  antara  massa  dengan  petugas  keamanan  yang  berjaga  di  depan  kantor  DPRD  Provinsi Gorontalo. Bahkan sempat  ricuh.  Anggota  massa aksi sempat dihajar oleh  aparat  keamanan.  Beruntung,  aksi  itu  tidak  berkepanjangan.Rencananya  227  TKA  asal negeri tirai bambu itu akan datang dan bekerja di Gorontalo  Utara  (Gorut).  Mereka akan mengerjakan Perusahaan Listrik Tenaga Uap  (PLTU)  Tanjung  Karang, Gorut.Wakil  Koordinator  Lapangan,   Zakaria   mengatakan  pihaknya  menilai PLTU di Gorontalo bermasalah.  Mulai  dari  pembebasan  lahan  dan  tenaga kerjanya. “Ini semua bermasalah  karena  kami  memiliki  data  akurat  dan  valid.  Kami  menolak  TKA  datang ke Gorontalo karena tidak  ada  transparansi  dari  pihak  perusahaan,”  ungkap  Zakaria  kepada  awak media.Menurutnya, keberadaan TKA yang bekerja di PLTU Gorontalo  Utara  harus  sesuai  dengan  porsi  dan  kuali­  kasinya. Namun yang terjadi kata Zakaria, justru TKA  telah  mengerjakan  pekerjaan  yang  bisa  dilakukan  masyarakat  lokal.“Pemerintah  seolah  abai   melihat   nasib   masyarakat  khususnya  yang  ada  di  Gorut,”  kata  Zakaria.Usai   dari   DPRD   rombongan  aksi  menuju  kantor  Gubernur  dan  diterima  Wakil  Gubernur  Gorontalo H. Idris Rahim. Dalam  aksi  unjuk  rasa  itu AMPRG menyampaikan lima  tuntutan  terkait  Tenaga  Kerja  Asing  (TKA)  pada   pembangunan   Pembangkit  Listrik  Tenaga  Uap  (PLTU)  Sulawesi  Bagian  Utara  (Sulbagut)  I  di  Desa  Tanjung  Karang,  Kecamatan  Tomilito,  Kabupaten  Gorontalo  Utara.  Tuntutan  tersebut  yaitu meminta pemerintah menyediakan  wadah  untuk  masyarakat  sebagai  peningkatan  sumber  daya  manusia  (SDM)  sesuai  dengan  kebutuhan  lapangan kerja, pemerintah harus  menyamaratakan  gaji,  fasilitas,  jaminan  kesehatan  sosial,  dan  menjamin  keselamatan  kerja  antara  TKA  dan  Tenaga  Kerja  Indonesia  (TKI).Tuntutan   lainnya,   pemerintah   harus   memberikan  informasi  tentang  Amdal  PLTU  Sulbagut I, meminta petugas Imigrasi  memberikan  data  kedatangan  TKA,  serta  data  Rencana  Penggunaan  Tenaga Kerja Asing (RPTKA) sesuai  dengan  kebutuhan  perusahaan. “Menyangkut TKA yang akan datang, saya sudah  meminta  ke  pihak  Gorontalo  Listrik  Perdana  selaku  pengembang  PLTU  Sulbagut  I  harus  ada  persyaratan  yang  ketat.  Mereka harus di swab atau rapid test untuk mencegah Covid-19,  harus  ada  data  yang  jelas  berapa  jumlah  TKA  yang  dibutuhkan,  termasuk  spesifikasi  dan  keahliannya,”  jelas  Wagub  Idris  Rahim  kepada  pengunjuk rasa.Idris  mengutarakan,  selain mempertimbangkan kasus  Covid-19,  Pemprov  Gorontalo  juga  melihat  dari  sisi  pertumbuhan  ekonomi  yang  diakibatkan  oleh   tersendatnya   pembangunan  proyek  strategis nasional tersebut. Pasalnya  menurut  Idris,  PLTU  Sulbagut  I  dipacu  penyelesaiannya  hingga  Desember  2020  karena  pembangkit kapal terapung milik  negara  Turki  yang  ada  di  Amurang  dan  menyuplai  kebutuhan  listrik  untuk  Gorontalo  dan  Sulawesi  Utara  akan  berakhir  kontraknya  pada  Januari  2021.“Jika  PLTU  ini  tidak  selesai,  maka  Gorontalo  dan  Sulawesi  Utara akan mengalami lagi pemadaman  bergilir.  Ini  pasti  sangat  berdampak  pada   pertumbuhan   ekonomi  kita.  Sekarang  saja  ekonomi  kita  negatif  2,5  persen,  jika  sampai  triwulan  tiga  masih  tetap  negatif,  maka  Indonesia  akan  mengalami  resesi,”  tuturnya.Sementara itu terkait tim yang  akan  memberikan  sosialisasi  dan  edukasi  kepada   masyarakat   terkait  kedatangan  TKA  ke  Provinsi  Gorontalo,  Wagub   Idris   Rahim   berjanji  akan  melibatkan  AMPRG.  Diharapkannya  dengan dukungan seluruh pihak,  pembangunan  PLTU  Sulbagut  I  yang  saat  ini  progresnya  sudah  mencapai  74  persen  bisa  segera  diselesaikan.“Kita  akan  libatkan  aliansi  mahasiswa  ikut  bersama  tim  sosialisasi.  Saya  berharap   dengan   keterlibatan seluruh pihak, sisa  pekerjaan  yang  26  persen  bisa  selesai  tepat  waktu,” tandasnya.(zis) Editor : Administrator
#AMPRG #DPRD Provinsi Gorontalo