GORONTALOPOST - Gigi Hadid, model keturunan Palestina, mengungkapkan keprihatinannya terhadap konflik berkepanjangan antara Hamas dan Israel yang baru-baru ini memuncak. Dalam sebuah pernyataan yang dia bagikan melalui akun Instagram pribadinya, Gigi Hadid menyatakan empati dan kepeduliannya terhadap nasib banyak nyawa tak bersalah yang menjadi korban dalam konflik tersebut. Dia mengungkapkan perasaan sedih mendalam atas dampak tragis yang telah menimpa masyarakat Gaza, khususnya anak-anak.
"Setiap hari, nyawa tak bersalah hilang, dan banyak di antaranya adalah anak-anak. Saya merasa empati dan patah hati terhadap perjuangan Palestina dan kehidupan di bawah pendudukan. Ini adalah tanggung jawab yang saya emban setiap hari," tulis Gigi Hadid dalam unggahan tersebut.
Sebagai seorang model keturunan Palestina, Gigi Hadid merasa memiliki tanggung jawab untuk mendukung gerakan pembebasan Palestina, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan konflik yang memakan banyak korban. Namun, dia juga menyampaikan kekecewaannya terhadap tindakan teror yang dilakukan oleh Hamas dan menekankan bahwa teror terhadap orang-orang tak bersalah tidak sejalan dengan tujuan gerakan Palestina Merdeka.
"Teror terhadap orang-orang yang tidak bersalah tidak sejalan dan tidak ada gunanya bagi gerakan 'Palestina Merdeka'. Gagasan bahwa ini telah memicu siklus pembalasan yang menyakitkan selama berpuluh-puluh tahun dan membantu melanggengkan gagasan keliru bahwa menjadi Pro-Palestina sama dengan antisemitisme," tambah Gigi Hadid.
Dalam unggahan tersebut, Gigi Hadid juga menyampaikan belasungkawa kepada semua korban yang terdampak oleh konflik tersebut dan menegaskan bahwa setiap manusia berhak atas hak dasar, perlakuan yang adil, dan keamanan, tanpa memandang kebangsaan, agama, etnis, atau tempat kelahiran mereka.
Gigi Hadid mengakhiri pernyataannya dengan mengirimkan cinta dan kekuatan kepada semua orang yang terkena dampak konflik tersebut, baik mereka berasal dari Palestina maupun dari komunitas Yahudi.
Informasi terbaru mencatat bahwa Israel telah melancarkan serangan balasan terhadap Hamas setelah serangan oleh kelompok militan tersebut yang menewaskan lebih dari 1.000 orang, menjadikannya peningkatan terbesar dalam konflik wilayah ini dalam beberapa dekade. Konflik ini terus berlanjut, dengan dampak yang menyakitkan bagi kedua belah pihak.
Warga Palestina di Gaza menggambarkan pemboman Israel sebagai begitu hebat sehingga mereka merasa mengalami "Nakba," sebuah istilah Arab yang merujuk pada bencana yang terjadi pada tahun 1948 ketika Israel didirikan, yang menyebabkan pengusiran massal warga Palestina. Serangan udara terbaru oleh Israel pada Jalur Gaza disebut sebagai yang paling sengit dalam 75 tahun konflik dengan Palestina, memaksa banyak warga seperti Plestia Alaqad, yang berusia 22 tahun, untuk melarikan diri. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey