GORONTALOPOST - Perang antara Gaza dan Israel telah menelan banyak korban, termasuk para jurnalis yang berani meliput konflik tersebut sejak Hamas melancarkan serangan tak terduga terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober lalu.
Sebagai akibat dari serangan oleh Hamas, Israel memberikan pernyataan perang tegas terhadap kelompok militan Palestina ini, dengan melancarkan serangan ke Jalur Gaza yang sudah lama terblokade.
Komite untuk Melindungi Jurnalis (Committee to Protect Journalists - CPJ) saat ini tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait semua laporan yang berkaitan dengan jurnalis dan pekerja media yang tewas, terluka, ditahan, atau bahkan hilang selama perang, termasuk mereka yang mengalami luka saat perang meluas hingga ke negara tetangga, Lebanon.
Hasil dari penyelidikan awal yang dilakukan oleh CPJ pada hari Kamis, 2 November, mengungkapkan bahwa setidaknya telah ada 36 jurnalis dan pekerja media yang tewas sejak dimulainya perang ini.
Jumlah tersebut berdampingan dengan lebih dari 9.000 warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat yang tewas, serta 1.400 warga Israel yang meninggal.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyampaikan kepada Reuters dan Agence France Press bahwa mereka tidak bisa memberikan jaminan keamanan kepada jurnalis yang beroperasi di Jalur Gaza. Mereka mencari jaminan dari jurnalis bahwa mereka tidak akan dianggap sebagai sasaran dalam konflik ini.
"Dalam suratnya, IDF menyatakan bahwa mereka sedang menargetkan semua aktivitas militer Hamas di seluruh Gaza," kata IDF. Mereka menambahkan bahwa Hamas dengan sengaja menempatkan operasi militer mereka di sekitar jurnalis dan warga sipil.
"Kami tidak dapat menjamin keselamatan karyawan Anda dan sangat mendesak Anda untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi mereka," demikian bunyi surat tersebut.
Jurnalis yang berada di Gaza saat ini menghadapi risiko yang sangat tinggi saat berusaha meliput kejadian-kejadian tersebut. Mereka harus berurusan dengan serangan darat dari Israel di Kota Gaza, serangan udara yang merusak, gangguan komunikasi, serta pemadaman listrik yang meluas.
Pada tanggal 2 November, CPJ memastikan bahwa 36 jurnalis dan pekerja media telah tewas. Dari jumlah tersebut, 31 di antaranya adalah warga Palestina, 4 berasal dari Israel, dan 1 dari Lebanon. Selain itu, ada juga 8 jurnalis lain yang dilaporkan mengalami luka dan 9 orang lainnya hilang atau ditahan.
Jurnalis yang terlibat dalam meliput konflik Gaza-Israel juga menghadapi serangkaian ancaman, penangkapan, penyensoran, hingga terancamnya nyawa anggota keluarga mereka.
CPJ terus melakukan penyelidikan terkait banyak laporan yang belum dikonfirmasi mengenai jurnalis lain yang tewas, hilang, ditahan, terluka, atau diancam. Mereka juga menginvestigasi kerusakan yang dialami oleh kantor media dan rumah pribadi jurnalis.
"Sangat penting untuk ditekankan bahwa jurnalis adalah warga sipil yang menjalankan pekerjaan penting saat terjadi krisis, dan mereka tidak boleh dijadikan sasaran oleh pihak-pihak yang bertikai," kata Sherif Mansour, koordinator program CPJ untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.
"Jurnalis di seluruh wilayah ini telah berkorban besar untuk meliput konflik yang sangat menyakitkan ini. Mereka di Gaza, khususnya, telah membayar harga yang sangat mahal dan terus menghadapi ancaman yang terus meningkat.
Banyak di antara mereka telah kehilangan rekan kerja, keluarga, fasilitas media, dan bahkan harus melarikan diri untuk mencari tempat yang aman saat tempat perlindungan yang aman tidak ada atau sangat terbatas." ungkap Mansour.
Meskipun CPJ belum memiliki informasi pasti apakah para jurnalis ini tengah meliput konflik pada saat kematian mereka, mereka tetap menjadikan investigasi ini sebagai prioritas utama dalam upaya mereka untuk mengungkap fakta-fakta di balik perang Gaza-Israel ini. (jpg)
Editor : Tina Mamangkey