GORONTALOPOST - Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menonjol sebagai salah satu organisasi terkemuka di tingkat internasional, dengan jumlah anggota terbanyak kedua setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti yang disampaikan oleh laman resmi OKI pada Minggu (12/11).
OKI menaungi 54 anggota dari empat wilayah benua yang berbeda, menggabungkan negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.
Sejarah OKI dimulai dari pertemuan negara-negara Islam sebagai tanggapan terhadap pembakaran masjid Al-Aqsa pada tanggal 12 Rajab 1389 Hijriah atau 25 September 1969 di Rabat, Maroko.
Pada tahun 1970, Islamic Conference of Foreign Minister (ICFM) mengadakan pertemuan pertama, yang merupakan langkah awal menuju pembentukan OKI.
Pertemuan tersebut, yang berlangsung di Jeddah, menjadi tonggak berdirinya organisasi ini dan menunjuk Tunku Abdul Rahman dari Malaysia sebagai Sekretaris Jenderal pertamanya.
Pada tahun 1972, ICFM secara resmi mengesahkan Piagam OKI, yang memuat prinsip-prinsip penguatan organisasi dan solidaritas antara negara anggota.
Tujuan utama OKI adalah menyatukan negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim yang berada di bawah naungan PBB.
Selain itu, OKI berfungsi sebagai media untuk menyelesaikan konflik internal dan aktif menyuarakan masalah yang berkaitan dengan umat Muslim di seluruh dunia di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
OKI membentuk 13 departemen yang mengurus berbagai aspek, termasuk sekretaris jenderal dan kabinetnya.
Departemen pertama yang dibentuk adalah yang berkaitan dengan Palestina dan Al-Quds, fokus utamanya adalah membantu Palestina mencapai hak-haknya, termasuk mendirikan negara Palestina.
Selain itu, OKI memiliki departemen-departemen lain yang menangani aspek sosial-budaya, politik, ekonomi, dan lainnya, menunjukkan komitmen organisasi ini terhadap berbagai dimensi kehidupan masyarakat anggotanya.(jpg)
Editor : Tina Mamangkey