Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Langit Turki Ditutup untuk Pesawat Pemimpin Israel, Izin Lintas Udara Ditolak

Tina Mamangkey • Senin, 18 November 2024 | 10:09 WIB
Presiden Israel Isaac Herzog bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 30 Januari 2022. ANTARA/Mohamed Al Hammadi/WAM/HO via Reuters/as.
Presiden Israel Isaac Herzog bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 30 Januari 2022. ANTARA/Mohamed Al Hammadi/WAM/HO via Reuters/as.

GORONTALOPOST - Kegagalan Presiden Israel Isaac Herzog untuk menghadiri Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP29) di Baku, Azerbaijan, dikabarkan disebabkan oleh penolakan Turki untuk memberikan izin lintas udara bagi pesawat yang membawanya.

Hal ini mengarah pada ketegangan diplomatik yang semakin dalam antara Turki dan Israel, yang sudah lama berada di ambang perpecahan.

Pada Sabtu sore waktu setempat, pemerintah Israel mengumumkan bahwa kehadiran Presiden Herzog di COP29 harus dibatalkan dengan alasan "keamanan".

Namun, laporan yang dikutip dari harian Turki Milliyet dan sumber diplomatik baik dari Israel maupun Turki, mengungkapkan bahwa alasan utama pembatalan tersebut adalah penolakan Turki untuk memberikan izin bagi pesawat yang membawa Herzog melintasi wilayah udaranya.

Sumber diplomatik Azerbaijan bahkan mengonfirmasi bahwa Turki menjadi penghalang utama, dengan menutup langitnya bagi pesawat Israel, sehingga perjalanan Herzog ke Baku gagal terlaksana.

Penolakan ini tidak terlepas dari ketegangan panjang antara Turki dan Israel.

Hubungan kedua negara telah memburuk sejak tahun 2010, ketika pasukan khusus Israel menyerang kapal Mavi Marmara, yang berangkat dari Turki menuju Jalur Gaza.

Serangan itu menewaskan sembilan warga Turki dan menimbulkan kemarahan besar di Ankara.

Kemudian, pada 2018, Turki meminta duta besar Israel untuk meninggalkan negaranya setelah protes besar di Gaza yang berkaitan dengan peringatan 70 tahun pembentukan Israel dan pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem.

Sejak saat itu, hubungan diplomatik antara kedua negara hampir terputus total.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak akan memulihkan hubungan dengan Israel selama negara tersebut terus melakukan operasi militer di Gaza.

Erdogan bahkan telah menyatakan pemutusan hubungan diplomatik dengan Israel sebagai respons atas kebijakan Tel Aviv yang dianggapnya kejam terhadap rakyat Palestina, terutama di Gaza.

Erdogan juga telah berulang kali mengkritik kebijakan Israel yang menurutnya semakin memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Dalam pernyataan terbarunya, Erdogan menegaskan bahwa Turki tidak berniat untuk mengubah sikapnya terhadap Israel, meskipun tekanan diplomatik dari berbagai negara.

Ketegangan ini jelas memengaruhi hubungan bilateral antara Turki dan Israel, yang sudah lama menjadi permasalahan di tingkat internasional.

Israel, yang memiliki hubungan baik dengan negara-negara besar di Barat, kini semakin terisolasi di dunia Muslim.

Di sisi lain, Turki terus memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina di forum internasional dan berupaya untuk memperkuat posisi politiknya di Timur Tengah.

Bahkan meskipun Turki dan Israel sempat mencoba memperbaiki hubungan setelah insiden Mavi Marmara, ketegangan tetap berlanjut, apalagi setelah serangan-serangan terbaru yang dilakukan oleh militer Israel di Gaza.

Dengan situasi yang terus berkembang, tampaknya perbaikan hubungan antara Turki dan Israel masih jauh dari kenyataan.

Pemblokiran perjalanan Herzog ke Azerbaijan ini menegaskan bahwa hubungan diplomatik antara kedua negara mungkin akan terus terhambat selama kebijakan luar negeri Israel tidak berubah.

Di sisi lain, meski hubungan antara kedua negara terus memburuk, penting untuk dicatat bahwa baik Turki maupun Israel tetap memiliki kepentingan strategis di kawasan tersebut.

Namun, perubahan besar dalam hubungan mereka akan bergantung pada perubahan sikap Israel terhadap Palestina dan kebijakan luar negerinya. (antara)

Editor : Tina Mamangkey
#Izin Lintas Udara #Ditolak #Turki #Israel