Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Trump Umumkan Perang Gaza Berakhir, Tapi Warga Palestina Masih Hidup di Tengah Puing dan Ketidakpastian

Azis Manansang • Rabu, 15 Oktober 2025 | 01:00 WIB

 

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa perang panjang antara pasukan Israel dan kelompok Hamas resmi berakhir(F:pm)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa perang panjang antara pasukan Israel dan kelompok Hamas resmi berakhir(F:pm)

Gorontalopost, GAZA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan penuh percaya diri mengumumkan bahwa perang panjang antara pasukan Israel dan kelompok Hamas resmi berakhir pada Minggu, (12 /10/ 2025).

“Perang sudah berakhir,” katanya singkat sebelum terbang menuju Mesir.

Baca Juga: DPRD Gorontalo Sambut Aksi Mahasiswa Tolak KKN, Ridwan Monoarfa Kami Terbuka Terhadap Aspirasi

Namun di balik klaim kemenangan dan perdamaian itu, bayang-bayang kehancuran masih menyelimuti Gaza tanah yang kini hanya tersisa debu, reruntuhan.

Dan duka mendalam dari ribuan korban yang kehilangan rumah dan keluarga.

Trump, dalam pernyataannya di Washington, menegaskan bahwa langkah diplomatik yang ia bawa akan menjadi fondasi bagi “babak baru perdamaian” antara Israel dan Palestina.

Ia bahkan menyebut kunjungan ke Timur Tengah kali ini sebagai misi penyelamat  mendorong pembebasan sandera dan penghentian kekerasan.

“Kami telah menyiapkan jalan menuju perdamaian yang langgeng di kawasan ini,” ucapnya optimistis.

Namun di sisi lain, skeptisisme publik membayangi janji-janji itu, mengingat sejarah panjang kegagalan perdamaian yang berulang di tanah suci tersebut.

Di kubu Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Panglima Militer Letjen Eyal Zamir justru merayakan apa yang mereka sebut sebagai “kemenangan strategis”.

Menurut Zamir, keberhasilan menekan Hamas tidak hanya berkat kekuatan militer, tetapi juga melalui diplomasi yang dilakukan selama dua tahun terakhir.

Namun, kelompok Hamas menegaskan belum sepenuhnya tunduk.

Mereka siap menyerahkan sandera dan jenazah prajurit Israel yang gugur, tetapi tetap menuntut pembebasan tujuh tokoh penting Palestina yang hingga kini masih ditahan oleh Israel.

Sementara elite dunia bicara soal gencatan senjata, warga Gaza justru sibuk mencari sisa kehidupan di antara puing-puing.

Baca Juga: DPRD Gorontalo Resmi Tetapkan Tim Seleksi KPID 2026–2029, Komit Dorong Transparansi dan Profesionalisme

Fatima Salem, seorang ibu 38 tahun, hanya bisa terpaku memandangi reruntuhan rumahnya.

“Tidak ada yang tersisa, bahkan bayangan masa lalu pun hilang,” katanya lirih.

Meski bantuan kemanusiaan mulai masuk, kekacauan terjadi di banyak titik.

Truk-truk bantuan direbut oleh warga yang kelaparan, listrik padam, dan air bersih nyaris tak ada. Rakyat Gaza hidup di antara harapan dan ketakutan dua hal yang kini terasa sama rapuhnya.

Trump berharap konferensi di Mesir akan menjadi pintu perdamaian permanen, dengan pasukan multinasional menggantikan militer Israel di Gaza di bawah komando AS.

Namun banyak pengamat menilai, ini bukan akhir dari perang melainkan jeda sementara sebelum babak baru konflik kembali membara.

Di tengah diplomasi dan klaim kemenangan, satu hal tetap nyata: rakyat Gaza masih berjuang untuk sekadar bertahan hidup di tanah yang kini nyaris tak berbentuk.(PM).

Editor : Azis Manansang
#Perdamaian Timur Tengah #peranggaza #DonaldTrump #Palestina #Israel