Gorontalopost, TEHERAN – Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei menandai berakhirnya satu era penting dalam sejarah politik Iran.
Lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939, Khamenei tumbuh
dalam keluarga ulama sederhana yang menanamkan nilai asketisme dan keteguhan iman sejak dini.
Baca Juga: Khamenei Tewas dalam Serangan Udara AS–Israel, Trump Klaim Operasi Intelijen Presisi Tinggi
Sejak kecil, ia mengenyam pendidikan agama di maktab sebelum melanjutkan studi teologi di Mashhad.
Di sana, ia memperdalam logika, filsafat, dan fikih Islam.
Pemikirannya banyak dipengaruhi pidato revolusioner Nawwab Safavi yang lantang mengkritik kebijakan rezim
Shah yang dinilai pro-Barat.
Pada awal 1960-an, Khamenei bergabung dengan gerakan yang dipimpin Ruhollah Khomeini untuk menentang kekuasaan Shah.
Ia mengaku mendedikasikan belasan tahun hidupnya untuk perjuangan revolusi,
menghadapi risiko penangkapan, intimidasi, hingga pengasingan tanpa mundur dari garis nperjuangan.
Selama masa represi politik, ia pernah ditahan oleh aparat keamanan SAVAK dan menjalani pengasingan selama beberapa tahun.
Meski berada dalam tekanan, aktivitas dakwah dan politiknya terus berlanjut secara sembunyi-sembunyi,
bahkan dipercaya membawa pesan penting dari para ulama kepada jaringan revolusioner di berbagai wilayah Iran.
Baca Juga: Gubernur Gusnar dan Pangdam XIII/Merdeka Genjot Cetak Sawah Pohuwato, 523 Hektare Sudah Terbentuk
Perjalanan panjang penuh pengorbanan itu mengukuhkan posisinya sebagai figur sentral dalam Revolusi Islam Iran.
Dari aktivis bawah tanah hingga menjadi Pemimpin Tertinggi,
Khamenei menjelma sebagai simbol kesinambungan ideologi revolusi yang membentuk wajah politik Iran modern hingga akhir hayatnya.(JP/*).
Editor : Azis Manansang