Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Menjaga Warisan Leluhur, Ritual Aruwa di Gorontalo Sambut Ramadan dengan Doa dan Silaturahmi

Nur Fadilah • Kamis, 6 Februari 2025 | 13:32 WIB

Tradisi doa arwah atau “Aruwa” tetap menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Gorontalo saat menyambut bulan suci Ramadan (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Tradisi doa arwah atau “Aruwa” tetap menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Gorontalo saat menyambut bulan suci Ramadan (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

GORONTALOPOST
-Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Muslim di berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi khas yang dilakukan secara turun-temurun.

Salah satunya adalah ritual Aruwa, sebuah tradisi sakral yang masih dijaga oleh masyarakat Gorontalo.

Ritual ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi wujud penghormatan terhadap leluhur dan bentuk persiapan spiritual sebelum menjalankan ibadah puasa.

Makna dan Sejarah Ritual Aruwa

Aruwa merupakan tradisi yang berasal dari kata "arwah", yang merujuk pada penghormatan terhadap leluhur. Ritual ini dipercaya telah ada sejak ratusan tahun lalu dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Masyarakat Gorontalo meyakini bahwa sebelum memasuki bulan Ramadan, penting untuk mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal agar mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Selain itu, Aruwa juga menjadi momen untuk membersihkan diri secara lahir dan batin. Masyarakat percaya bahwa sebelum menjalankan ibadah puasa, seseorang harus melepaskan beban pikiran, berdamai dengan masa lalu, serta mempererat tali silaturahmi dengan keluarga dan tetangga.

Prosesi Ritual Aruwa

Ritual Aruwa biasanya dilakukan beberapa hari sebelum Ramadan. Berikut adalah tahapan yang umumnya dilakukan dalam tradisi ini:

1. Ziarah Kubur
Masyarakat Gorontalo akan mengunjungi makam keluarga dan leluhur untuk membersihkan area pemakaman, menabur bunga, serta memanjatkan doa bersama. Ziarah ini menjadi simbol penghormatan dan pengingat bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara.

2. Pembacaan Doa dan Tahlilan
Setelah ziarah kubur, keluarga akan berkumpul di rumah atau masjid untuk mengadakan tahlilan. Mereka membaca doa-doa, surat Yasin, serta zikir bersama sebagai bentuk permohonan ampun bagi arwah yang telah meninggal.

3. Tradisi Bersih-Bersih Rumah dan Masjid
Bagian lain dari ritual Aruwa adalah membersihkan rumah dan tempat ibadah. Masyarakat percaya bahwa lingkungan yang bersih mencerminkan hati yang bersih, sehingga mereka dapat menyambut Ramadan dengan suasana yang lebih suci.

4. Berbagi Makanan dan Sedekah
Salah satu nilai utama dalam ritual ini adalah berbagi. Setelah berdoa, masyarakat akan menyiapkan makanan khas seperti binte biluhuta (sup jagung khas Gorontalo) dan dodol Gorontalo untuk dibagikan kepada tetangga atau kaum dhuafa. Ini menjadi simbol solidaritas dan kebersamaan dalam menyambut bulan suci.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Ritual Aruwa

Ritual Aruwa bukan sekadar tradisi, tetapi juga memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai luhur dalam budaya Gorontalo, seperti:

- Spiritualitas – Sebagai bentuk persiapan diri menghadapi bulan suci dengan hati yang lebih bersih dan tenang.
- Kebersamaan – Mempererat tali silaturahmi antara keluarga, tetangga, dan masyarakat.
- Penghormatan Leluhur – Mengingat jasa orang-orang terdahulu yang telah berkontribusi dalam kehidupan.
- Kepedulian Sosial– Mengajarkan pentingnya berbagi rezeki kepada sesama.

Ritual Aruwa di Era Modern

Meski zaman terus berkembang, ritual Aruwa masih tetap dilakukan oleh masyarakat Gorontalo. Namun, bentuknya mungkin mengalami beberapa penyesuaian.

Jika dahulu ritual ini dilakukan secara besar-besaran dengan melibatkan banyak orang, kini beberapa keluarga memilih melaksanakannya dalam lingkup yang lebih kecil.

Selain itu, perkembangan teknologi juga memungkinkan masyarakat untuk mengikuti tahlilan secara virtual bagi mereka yang tidak bisa pulang kampung.

Namun, esensi dari ritual ini tetap sama: mempersiapkan diri secara spiritual untuk menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.

Ritual Aruwa adalah bukti bahwa budaya dan agama dapat berjalan selaras dalam kehidupan masyarakat.

Tradisi ini bukan hanya menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi sarana introspeksi diri sebelum memasuki bulan yang penuh berkah.

Selama masih dipegang teguh oleh generasi muda, ritual ini akan terus hidup dan menjadi warisan budaya Gorontalo yang kaya makna.

Bagi masyarakat Gorontalo, Ramadan bukan hanya tentang menjalankan ibadah puasa, tetapi juga tentang menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Ritual Aruwa pun menjadi cermin betapa spiritualitas dan kebersamaan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.(*)

Editor : Nur Fadilah
#Gorontalo #ramadhan #Ritual Aruwa