Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Gotong Royong Tinggal Kenangan, Huyula Tergerus Zaman Digital

Nur Fadilah • Senin, 12 Mei 2025 | 11:59 WIB

 

Petani menggiling saat musim panen padi di sawah Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo (15/3).
Petani menggiling saat musim panen padi di sawah Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo (15/3).

GORONTALOPOST
— Di tengah derasnya arus modernisasi dan masifnya penggunaan media sosial, tradisi luhur masyarakat Gorontalo yakni huyula atau gotong royong perlahan kian memudar.

Budaya yang dulu menjadi denyut nadi kehidupan sosial kini seolah terpinggirkan oleh gaya hidup individualis yang menjangkiti generasi muda.

Huyula, dalam bahasa Gorontalo berarti kerja sama atau tolong-menolong, bukan sekadar aktivitas fisik membantu sesama. Ia adalah cermin dari nilai-nilai kekeluargaan, kepedulian, dan persatuan yang sudah mengakar sejak dulu.

Dari membangun rumah tetangga, panen di ladang, hingga hajatan keluarga, huyula menjadi ruang interaksi sosial yang menguatkan ikatan antarwarga.

Namun, kini pemandangan semacam itu makin jarang terlihat. Alih-alih berkumpul di halaman rumah tetangga untuk membantu memasak atau menyusun kursi acara pernikahan, anak-anak muda lebih memilih duduk di kafe, sibuk menatap layar ponsel, atau menghabiskan waktu untuk membuat konten di TikTok dan Instagram.

“Kalau dulu, setiap ada acara pasti ramai. Sekarang, yang datang hanya orang tua. Anak-anak muda susah diajak. Katanya sibuk, padahal kita lihat mereka lebih aktif di media sosial,” ujar Ibu Ramlah, tokoh masyarakat di Kabupaten Bone Bolango, sambil menghela napas panjang.

Fenomena ini tak hanya menjadi perhatian masyarakat adat, tapi juga para pemerhati budaya. Akademisi dari Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Sitti Rahma, menilai bahwa perubahan ini merupakan dampak langsung dari pergeseran nilai sosial yang terjadi dalam masyarakat modern.

“Generasi muda lebih terdorong oleh nilai-nilai personal branding dan pencapaian individual. Sayangnya, ini seringkali tidak diiringi dengan kesadaran akan pentingnya menjaga identitas budaya lokal,” jelasnya.

Media sosial memang memberikan ruang ekspresi dan konektivitas yang luas, tetapi juga membawa tantangan besar: melemahkan interaksi nyata antarwarga. Ketika like dan komentar menjadi ukuran kehadiran sosial, nilai gotong royong yang menuntut keterlibatan fisik dan waktu jadi terasa berat.

Namun, tidak semua harapan pupus. Beberapa komunitas pemuda di Gorontalo mulai sadar dan mencoba menghidupkan kembali huyula dengan pendekatan baru.

Misalnya, mereka mengorganisir kerja bakti sambil mendokumentasikannya sebagai konten edukatif yang diunggah ke YouTube dan Instagram. Upaya ini diharapkan bisa menjembatani dunia digital dengan semangat kolaborasi khas Gorontalo.

“Huyula itu bukan hanya soal tradisi, tapi soal jiwa kita sebagai orang Gorontalo. Kalau hilang, maka kita kehilangan jati diri,” kata Udin, salah satu penggerak komunitas Huyula Muda.

Kini, tugas besar menanti: bagaimana membangun kesadaran kolektif bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggerus nilai-nilai kearifan lokal. Karena di balik like dan followers, ada akar budaya yang tak boleh dibiarkan lapuk.(*)

 

Editor : Nur Fadilah
#Gorontalo #tradisi #Huyula