Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Warisan Anyaman Gorontalo Terancam Punah, Pemerhati Serukan Aksi Pelestarian

Nur Fadilah • Kamis, 15 Mei 2025 | 09:19 WIB

Amongo atau tikar anyaman tradisional Gorontalo yang terbuat dari tumbuhan rawa (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Amongo atau tikar anyaman tradisional Gorontalo yang terbuat dari tumbuhan rawa (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

GORONTALOPOST
— Di tengah modernisasi yang kian pesat, warisan budaya tradisional Gorontalo seperti anyaman amongo dan lubungo menghadapi ancaman kepunahan.

Kedua kerajinan tangan yang berasal dari Kabupaten Bone Bolango (Bonebol), Provinsi Gorontalo, kini makin jarang ditemukan, bahkan mulai ditinggalkan generasi muda.

Padahal, sejak lama masyarakat Bone Bolango dikenal memiliki keterampilan menganyam luar biasa, menghasilkan beragam produk fungsional yang sarat nilai budaya. Amongo, misalnya, adalah tikar tradisional yang terbuat dari tumbuhan rawa seperti pandan atau daun rumbia.

Sementara lubungo adalah wadah telur ayam yang juga dianyam dengan teknik khas turun-temurun. Tak ketinggalan upiah karanji, sejenis songkok tradisional Gorontalo, menjadi simbol status sosial dan kebanggaan budaya.

“Anyaman seperti amongo bukan hanya soal estetika, tapi juga identitas lokal. Sayangnya, peminatnya semakin sedikit. Anak muda sekarang lebih tertarik pada produk instan dan modern,” ujar Nurhayati D. Mokodompis, pemerhati budaya lokal Gorontalo.

Nurhayati mengungkapkan, selain karena kurangnya minat generasi muda, keterbatasan bahan baku alami dan minimnya dukungan pasar turut mempercepat surutnya kerajinan ini.

Ia mendorong agar pemerintah daerah lebih proaktif dalam mempromosikan dan mengintegrasikan produk kerajinan tradisional ke dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Bayangkan kalau amongo dijadikan suvenir khas atau bagian dari interior homestay wisata. Nilai ekonominya bisa meningkat tanpa kehilangan nilai budayanya,” tambahnya.

Upaya pelestarian pun mulai dilakukan sejumlah komunitas budaya dan pelaku UMKM di Bone Bolango.

Beberapa di antaranya mengadakan pelatihan anyaman bagi remaja dan ibu rumah tangga, serta memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produk mereka ke pasar yang lebih luas.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bone Bolango, Mulyadi Diko, menyatakan bahwa pelestarian warisan budaya seperti amongo menjadi bagian dari program revitalisasi budaya daerah.

“Budaya tak bisa dibiarkan punah karena itu adalah akar jati diri kita. Kami akan terus dukung pengrajin dan komunitas pelestari,” katanya.

Di tengah derasnya arus zaman, anyaman amongo dan kerajinan tradisional lainnya membutuhkan lebih dari sekadar nostalgia.

Diperlukan aksi nyata lintas sektor untuk menjaga agar helai demi helai tradisi itu tetap hidup dan relevan, sebagai kebanggaan Gorontalo dan potensi ekonomi yang tak ternilai.(*)

 

Editor : Nur Fadilah
#Gorontalo #anyaman #Dinas Pariwisata