Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Melestarikan Paiya Lo Hungo Lo Poli, Tradisi Lisan Khas Gorontalo yang Kian Langka

Nur Fadilah • Rabu, 9 Juli 2025 | 12:50 WIB

Ilustrasi puisi, pantun. (dok. Foto Álvaro Serrano/Unsplash)
Ilustrasi puisi, pantun. (dok. Foto Álvaro Serrano/Unsplash)

GORONTALOPOST
-Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, masyarakat Gorontalo masih memelihara sebuah tradisi lisan kuno yang sarat makna dan nilai budaya.

Tradisi itu adalah paiya lo hungo lo poli, sebuah bentuk seni pantun berbalas yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Gorontalo.

Apa Itu Paiya Lo Hungo Lo Poli?

Paiya lo hungo lo poli secara harfiah berarti "melempar kata-kata ringan". Meski terdengar ringan, tradisi ini sejatinya memiliki muatan kultural yang mendalam. Ia bukan sekadar permainan kata, tetapi juga bentuk komunikasi simbolik yang mencerminkan keluhuran bahasa dan kearifan lokal.

Dalam pertunjukannya, paiya lo hungo lo poli biasanya melibatkan dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan, yang saling berbalas pantun dalam bahasa Gorontalo.

Dialog mereka bisa mengandung unsur romantisme, sindiran halus, nasihat bijak, bahkan harapan-harapan tentang kehidupan. Pantun-pantun ini disusun dengan rima yang indah dan dikemas dengan gaya tutur yang penuh sopan santun.

Lebih dari Sekadar Hiburan

Seni pantun ini dulunya kerap ditampilkan dalam berbagai acara adat, pertemuan sosial, hingga perayaan-perayaan penting di masyarakat. Melalui paiya lo hungo lo poli, orang Gorontalo tidak hanya menyampaikan isi hati, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai luhur seperti kesantunan dalam berbicara, kecerdasan berbahasa, serta kemampuan menyampaikan kritik secara halus dan elegan.

Tradisi ini juga berfungsi sebagai media pelestarian bahasa daerah, yang kini mulai terpinggirkan oleh dominasi bahasa nasional dan asing. Dengan tetap melantunkan paiya lo hungo lo poli, generasi muda Gorontalo diajak untuk mencintai dan mempertahankan bahasa ibu mereka.

Tema-tema yang Diangkat

Salah satu kekuatan paiya lo hungo lo poli terletak pada fleksibilitas temanya. Pantun bisa mengangkat topik:

Menjaga Warisan yang Mulai Tergerus

Seiring waktu, keberadaan paiya lo hungo lo poli mulai jarang terdengar, terutama di kalangan generasi muda. Padahal, kesenian ini bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga pembentuk karakter, penjaga moral, serta pengikat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Beberapa pegiat budaya di Gorontalo kini tengah berupaya untuk menghidupkan kembali tradisi ini lewat festival budaya, pentas seni di sekolah, hingga media digital. Langkah ini penting agar paiya lo hungo lo poli tidak sekadar menjadi kenangan masa lalu, melainkan terus hidup dan tumbuh sebagai bagian dari jati diri Gorontalo.

Paiya lo hungo lo poli adalah bukti bahwa dalam kesederhanaan kata-kata, tersimpan kekayaan budaya yang tak ternilai. Tradisi pantun berbalas ini bukan hanya hiburan semata, melainkan cermin dari kehalusan budi, kecintaan pada bahasa, dan kekuatan budaya lokal yang patut dijaga.

Sudah saatnya kita kembali memberi ruang bagi warisan seperti ini untuk tumbuh di tengah zaman yang kian cepat berubah.(*)

Editor : Nur Fadilah
#Gorontalo #tradisi