Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Festival Maleo 2025 Harmoni Alam, Budaya, dan Konservasi di Bone Bolango

Nur Fadilah • Senin, 1 Desember 2025 | 10:03 WIB


Pelestarian Burung Maleo dukung penguatan Geopark Gorontalo
Pelestarian Burung Maleo dukung penguatan Geopark Gorontalo

 

GORONTALOPOST -Upaya menjaga kelestarian burung maleo (Macrocephalon maleo) kembali menjadi sorotan dalam peringatan Hari Maleo Sedunia ke-5 di Gorontalo.

Di bentang alam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Bone (TNBNW), keberadaan maleo bukan sekadar kekayaan biodiversitas tetapi menjadi unsur kunci yang menguatkan eksistensi Geopark Gorontalo.

Maleo dan “Dapur Alam” yang Menghidupkan Generasi Baru

Kepala SPTN 1 TNBNW, Hariadi Siswantoro, menjelaskan bahwa kawasan TNBNW menyimpan tiga pilar penting dalam penyusunan Geopark, yaitu geologi, biodiversitas, dan keunikan budaya masyarakat. Salah satu fenomena alam unik yang menjadi daya tarik kawasan ini adalah panas bumi (geotermal) yang muncul dari rekahan batuan kapur.

“Panas bumi ini menjadi ‘ibu’ bagi telur-telur maleo yang menetas setelah 60 hari dibenamkan induknya di dalam tanah,” ujar Hariadi.
Fenomena alam tersebut menjadi bukti kuat bagaimana unsur geologi dan biodiversitas berpadu menjaga kelangsungan hidup satwa endemik Sulawesi itu.

Masyarakat Bone Suwawa, Penjaga Harmoni Alam

Maleo telah lama menjadi satwa flagship di TNBNW. Namun pelestariannya tak hanya bergantung pada alam, melainkan juga pada masyarakat Bone Suwawa yang mendiami kawasan tersebut. Mereka menjadi aktor utama dalam menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus mewarisi hubungan harmonis dengan lingkungan.

“Keberadaan masyarakat Bone Suwawa adalah bagian penting dari ekosistem TNBNW,” kata Hariadi.

Dikupas dalam Gelar Wicara Hari Maleo Sedunia

Hubungan erat antara TNBNW, pelestarian maleo, dan Geopark Gorontalo dibahas dalam gelar wicara bertema ‘Harmoni di Lanskap Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Bone’. Acara ini digelar di Wadala Stable, kompleks Danau Perintis, Kabupaten Bone Bolango, sebagai rangkaian Festival Maleo.

Enam pembicara dari berbagai lembaga hadir memberikan perspektif, di antaranya:

Festival ini juga melibatkan kolaborasi luas berbagai instansi, organisasi lingkungan, akademisi, hingga komunitas masyarakat berbahasa Bonda.

Festival Maleo, Semakin Diminati Publik

Kepala Bidang Pariwisata Bone Bolango, Yudiawan Maksum, mengungkapkan bahwa tahun ini Festival Maleo diikuti lebih banyak lembaga dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menandakan meningkatnya perhatian publik terhadap konservasi satwa endemik Sulawesi tersebut.

“Festival ini tidak hanya mengajak masyarakat melihat pentingnya maleo, tetapi juga bagaimana satwa ini terkait dengan sosial budaya masyarakat Bone Suwawa,” jelasnya.

Mendorong Rekomendasi Konservasi Maleo

Melalui gelar wicara ini, para pembicara mendorong lahirnya rekomendasi untuk seluruh pihak yang berkaitan dengan konservasi maleo dan pelestarian habitatnya. Moderasi acara dilakukan oleh Rosyid Azhar dari Perkumpulan BIOTA dan diikuti puluhan mahasiswa serta undangan lainnya.

Dengan semakin kuatnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat lokal, upaya menjaga Maleo di TNBNW bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies melainkan merawat hubungan harmonis antara geologi, biodiversitas, dan budaya, yang menjadi fondasi kokoh Geopark Gorontalo.(antara)

 

Editor : Nur Fadilah
#Gorontalo #pelestarian #Maleo