GORONTALOPOST -Kolaborasi transportasi antara Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara (Sulut) dinilai menjadi kunci penting dalam memperkuat kerja sama pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru di Kawasan Timur Indonesia.
Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menegaskan bahwa penguatan konektivitas udara dan laut antar kedua provinsi sangat strategis, mengingat jarak Gorontalo–Manado yang relatif dekat namun belum didukung layanan transportasi yang optimal.
“Penguatan konektivitas ini bukan hanya soal kemudahan mobilitas, tetapi juga berdampak langsung pada terbukanya jalur ekonomi baru, khususnya di sektor pariwisata, serta penurunan biaya logistik,” ujar Idah di Gorontalo, Selasa.
Menurutnya, perjalanan darat Gorontalo–Manado yang memakan waktu sekitar 10 jam sejatinya bisa ditempuh hanya sekitar 45 menit melalui jalur udara. Namun, penerbangan langsung yang pernah ada belum berjalan konsisten karena kerap mengalami pembatalan.
“Ini tentu berdampak pada mobilitas masyarakat dan menghambat peluang ekonomi, terutama pariwisata,” kata Idah.
Dalam Forum Diskusi Terpumpun Transformasi SULAMPUA yang digelar di Kota Manado, Idah berharap kolaborasi antardaerah dapat kembali diperkuat agar akses transportasi Gorontalo–Manado dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Ia menilai konektivitas yang baik akan membuka ruang kolaborasi pariwisata yang saling menguntungkan. Gorontalo, misalnya, memiliki potensi wisata unggulan Hiu Paus (Whale Shark) di Botubarani yang dapat dikembangkan secara terintegrasi dengan destinasi wisata Manado yang telah dikenal di tingkat internasional.
Tak hanya pariwisata, peluang investasi di Gorontalo juga dinilai sangat menjanjikan. Salah satunya adalah keberadaan pabrik tepung kelapa yang produknya telah menembus pasar Eropa. Pemerintah Provinsi Gorontalo pun membuka peluang seluas-luasnya bagi investor untuk mengembangkan usaha di daerah tersebut.
Idah menegaskan, forum diskusi ini diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi antarprovinsi di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua, termasuk Gorontalo dan Sulawesi Utara yang secara historis memiliki kedekatan wilayah.
“Yang terpenting adalah menyamakan visi bahwa konektivitas ini merupakan kebutuhan kawasan, bukan kepentingan satu daerah. Tujuan kita bersama adalah menurunkan biaya logistik, meningkatkan konektivitas pariwisata, serta membangun kawasan sebagai gerbang logistik dan gerbang wisata Kawasan Timur Indonesia,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Idah mendorong pembentukan forum kerja sama resmi antar daerah melalui nota kesepahaman (MoU) guna menyelaraskan peran masing-masing pemerintah daerah. Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi bandara dan pelabuhan sebagai simpul penghubung antarwilayah.
Saat ini, Gorontalo tercatat memiliki delapan pelabuhan aktif dan telah rutin melakukan ekspor komoditas, termasuk jagung ke Filipina, yang semakin memperkuat posisi daerah tersebut dalam jaringan logistik regional.(antara)
Editor : Nur Fadilah