Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Usai Idulfitri, Warga Gorontalo Sambut Puncak Kedua Lebaran

Nur Fadilah • Selasa, 24 Maret 2026 | 10:36 WIB


Ilustrasi ketupat (Istimewa)
Ilustrasi ketupat (Istimewa)

GORONTALOPOST -Seminggu setelah gema takbir Idulfitri mereda, suasana di Provinsi Gorontalo kembali semarak. Masyarakat bersiap menyambut Lebaran Ketupat atau Hari Raya Ketupat yang jatuh setiap 8 Syawal sebuah tradisi yang bukan sekadar pesta rakyat, tetapi juga sarat nilai sejarah dan spiritualitas yang panjang.

Perayaan ini memang kini dikenal luas sebagai ajang silaturahmi dan jamuan kuliner. Namun di balik kemeriahannya, tersimpan kisah tentang pertemuan budaya dan keteguhan iman yang berakar dari komunitas Jawa Tondano (Jaton).

Jejak Sejarah: Warisan Dakwah yang Mengakar

Tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo tak lepas dari kedatangan masyarakat Jaton pada awal abad ke-19. Gelombang migrasi yang berlanjut hingga awal 1900-an ini melahirkan pemukiman seperti Desa Josonegoro dan Kaliyoso, yang hingga kini menjadi pusat pelestarian budaya tersebut.

Lebaran Ketupat sendiri dipercaya sebagai bagian dari metode dakwah yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga di tanah Jawa. Tradisi ini kemudian dibawa dan diwariskan oleh masyarakat Jaton di Gorontalo.

Secara filosofi, ketupat atau “kupat” berasal dari ungkapan Jawa Ngaku Lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Anyaman janur yang membungkus nasi menjadi simbol kerendahan hati, ajakan untuk saling memaafkan, dan refleksi diri setelah menjalani Ramadan.

Simbol Syukur dan Puncak Kedua Lebaran

Bagi masyarakat Gorontalo, Lebaran Ketupat menjadi semacam “puncak kedua” setelah Idulfitri. Perayaan ini menandai rasa syukur atas selesainya ibadah puasa, termasuk puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Beragam hidangan khas seperti ketupat, nasi bulu (nasi bambu), hingga dodol disajikan secara terbuka. Rumah-rumah warga pun menjadi ruang silaturahmi tanpa sekat siapa saja boleh datang dan menikmati hidangan sebagai bentuk sedekah dan kebersamaan.

Pergeseran Makna di Tengah Kemeriahan

Di tengah perkembangan zaman dan dukungan pemerintah yang menjadikan Lebaran Ketupat sebagai festival budaya, muncul kekhawatiran akan pergeseran makna.

Sebagian generasi muda mulai memandang tradisi ini hanya sebagai ajang makan-makan atau wisata kuliner. Nilai spiritual yang terkandung dalam filosofi Ngaku Lepat perlahan mulai memudar.

Fenomena yang terlihat di antaranya berkurangnya pemahaman terhadap nilai introspeksi diri, mulai tersisihnya doa bersama, hingga bergesernya fokus dari silaturahmi menjadi sekadar hiburan.

Ikhtiar Menjaga Warisan Budaya

Menyadari hal tersebut, tokoh adat dan masyarakat Gorontalo terus bergerak menjaga ruh tradisi ini. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari melibatkan generasi muda dalam proses pembuatan ketupat dari menganyam janur hingga memasak hingga mempertahankan ritual doa bersama di pagi hari sebelum perayaan dimulai.

Lebih dari itu, nilai-nilai filosofis terus ditanamkan, bahwa setiap anyaman ketupat bukan sekadar bentuk, melainkan simbol kebersihan hati, persatuan, dan keikhlasan.

Lebaran Ketupat di Gorontalo adalah bukti bahwa tradisi mampu bertahan lintas zaman. Namun, keberlangsungannya tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan, melainkan oleh sejauh mana makna di dalamnya tetap dijaga.

Di balik hidangan yang tersaji, tersimpan pesan sederhana namun mendalam: kembali fitri bukan hanya soal perayaan, tetapi tentang keberanian mengakui kesalahan dan mempererat kasih sayang antarsesama.

Editor : Nur Fadilah
#Gorontalo #Lebaran Ketupat