GORONTALOPOST -Identitas “Serambi Madinah” yang disematkan pada Provinsi Gorontalo bukan sekadar sebutan simbolis. Julukan ini tumbuh dari perjalanan sejarah panjang yang dipenuhi nilai religius, budaya, dan peradaban yang mengakar kuat.
Salah satu bukti nyata dari warisan tersebut dapat dilihat dari keberadaan masjid-masjid kuno yang hingga kini masih berdiri kokoh, menjadi penanda jejak Islam yang tak lekang oleh waktu.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid-masjid ini menjadi saksi bisu bagaimana Islam tumbuh, berkembang, dan menyatu dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. Dari pusat kerajaan hingga wilayah pedalaman, syiar Islam meninggalkan warisan yang tak ternilai. Berikut tiga masjid ikonik yang menjadi pilar sejarah tersebut:
1. Masjid Hunto Sultan Amai (1495)
Masjid Hunto Sultan Amai
Terletak di Kelurahan Biawu, Kota Gorontalo, masjid ini dikenal sebagai yang tertua di wilayah tersebut. Dibangun pada tahun 1495, keberadaannya tak bisa dilepaskan dari sosok Sultan Amai raja pertama Gorontalo yang memeluk Islam.
Masjid ini memiliki kisah unik: dibangun sebagai mahar untuk meminang Boki Owutango dari Kerajaan Palasa. Hingga kini, jejak sejarahnya masih terasa melalui sumur tua yang tak pernah kering serta makam Sultan Amai yang berada di dalam kompleks masjid.
Lebih dari sekadar bangunan, Masjid Hunto menjadi simbol awal masuknya cahaya Islam di Gorontalo titik awal perubahan besar dalam kehidupan masyarakat setempat.
2. Masjid Sabilulhuda Boki Owutango (1525)
Masjid Sabilulhuda Boki Owutango
Masih berada di Kota Gorontalo, masjid ini dikenal sebagai pusat pengembangan Islam di wilayah pedalaman sejak sekitar tahun 1525. Nama Boki Owutango diabadikan sebagai bentuk penghormatan kepada permaisuri Sultan Amai.
Masjid ini menandai bahwa penyebaran Islam tidak hanya berhenti di lingkungan kerajaan, tetapi meluas secara terstruktur hingga ke berbagai wilayah kekuasaan. Meski telah mengalami berbagai renovasi, nilai historis dan spiritualnya tetap terjaga, menjadikannya salah satu tonggak penting dalam sejarah dakwah di Gorontalo.
3. Masjid Agung Baiturrahim
Masjid Agung Baiturrahim
Berdiri megah di pusat Kota Gorontalo, masjid ini memiliki peran strategis dalam sistem pemerintahan masa lampau. Dibangun pertama kali pada tahun 1728 oleh Raja Botutihe, masjid ini menjadi bagian penting dari tata ruang kerajaan.
Posisinya berdampingan dengan balai musyawarah adat dan kediaman raja mencerminkan filosofi hidup masyarakat Gorontalo: agama dan adat berjalan seiring. Meski sempat diterpa berbagai ujian, termasuk gempa besar, masjid ini tetap berdiri kokoh dan kini tampil dengan arsitektur modern yang megah.
Masjid Agung Baiturrahim bukan hanya pusat kegiatan religi, tetapi juga simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
Ketiga masjid ini bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan representasi nyata dari filosofi hidup masyarakat Gorontalo: Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah.
Mengunjungi tempat-tempat ini bukan hanya perjalanan wisata religi, tetapi juga pengalaman menyelami bagaimana nilai-nilai Islam telah membentuk identitas sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Gorontalo selama lebih dari lima abad.
Di tengah modernitas yang terus berkembang, warisan ini tetap hidup menjadi pengingat akan akar sejarah yang kuat dan tak tergoyahkan.