Usai Nobar Final Piala Dunia, Sekolah di Gorontalo Tetap Masuk Sesuai Jadwal

Nur Fadilah • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 11:18 WIB
Penyelenggaraan puncak Festival Pendidikan Gorontalo Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Lahir Ke-22 Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Gorontalo di Aula BPMP Gorontalo, Minggu (19/7/2026). ANTARA/HO-Diskominfotik Gorontalo
Penyelenggaraan puncak Festival Pendidikan Gorontalo Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Lahir Ke-22 Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Gorontalo di Aula BPMP Gorontalo, Minggu (19/7/2026). ANTARA/HO-Diskominfotik Gorontalo

 

GORONTALOPOST-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Gorontalo menegaskan tidak ada perubahan jadwal kegiatan belajar mengajar setelah final Piala Dunia 2026.

Meski masyarakat diperkirakan antusias menyaksikan laga puncak tersebut hingga dini hari, seluruh sekolah di Gorontalo tetap menjalankan aktivitas seperti biasa pada Senin (20/7).

Kepastian itu disampaikan Kepala Dikbud Provinsi Gorontalo, Sudarman Samad, usai menggelar pertemuan virtual bersama Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) se-Provinsi Gorontalo untuk membahas kesiapan satuan pendidikan menghadapi euforia final Piala Dunia.

"Kami tidak menerbitkan edaran khusus soal perubahan jam masuk. Sekolah tetap berjalan normal seperti hari-hari biasa," ujarnya.

Sudarman menjelaskan, jam belajar tetap dimulai pukul 07.15 hingga 15.45 Wita. Namun, sekolah diberikan keleluasaan mengatur kegiatan pada awal pembelajaran sebagai bentuk antisipasi apabila ada peserta didik yang baru selesai menyaksikan pertandingan pada dini hari.

Kegiatan awal tersebut dapat diisi dengan aktivitas ringan dan bermanfaat, seperti kerja bakti, membersihkan lingkungan sekolah, merapikan ruang kelas, hingga menata meja dan kursi sebelum proses belajar mengajar dimulai.

Menurutnya, pengaturan teknis tersebut menjadi kewenangan masing-masing sekolah dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.

Dikbud juga mengambil pendekatan edukatif terhadap peserta didik yang datang terlambat karena menonton final Piala Dunia. Mereka tidak akan dikenakan sanksi disiplin, melainkan diarahkan untuk mengerjakan tugas yang memiliki nilai pembelajaran.

"Tugas tersebut dapat difasilitasi oleh guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan maupun guru Bimbingan Konseling di masing-masing sekolah," katanya.

Tugas yang diberikan dapat berupa resume maupun analisis mengenai nilai-nilai positif dari penyelenggaraan Piala Dunia, seperti sportivitas, kerja sama tim, disiplin, dan semangat pantang menyerah.

Selain mengatur kesiapan sekolah, Dikbud Gorontalo juga mengimbau peran aktif orang tua dalam mengawasi anak-anak setelah pertandingan usai. Pengawasan dinilai penting agar euforia final Piala Dunia tidak berujung pada aktivitas yang berisiko.

"Kami minta orang tua ikut mengawasi. Jangan sampai anak-anak konvoi atau berkumpul dalam jumlah besar setelah menonton, karena itu hanya bisa merugikan mereka sendiri," katanya.

Sementara itu, bagi sekolah yang berencana menggelar kegiatan nonton bareng final Piala Dunia bersama masyarakat, Sudarman menyatakan kegiatan tersebut diperbolehkan selama tidak mengganggu proses belajar mengajar dan tetap mematuhi ketentuan yang berlaku.

Melalui langkah tersebut, Dikbud Provinsi Gorontalo berharap semangat menyambut final Piala Dunia 2026 dapat dinikmati secara positif tanpa mengganggu aktivitas pendidikan.

Sinergi antara sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik dinilai menjadi kunci agar suasana tetap aman, tertib, dan kondusif di tengah antusiasme masyarakat menyaksikan ajang sepak bola terbesar di dunia.(antara)

Editor : Nur Fadilah
MKKS Piala Dunia