QRIS Mulai Kuasai Pasar Tradisional Gorontalo, Transaksi Pedagang Kini Tak Lagi Bergantung Uang Tunai

Azis Manansang • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:11 WIB

 

Pemkab Gorontalo saat saat menerima kunjungan BI dan perbankan di Pasar Kayubulan, Kecamatan Limboto.(DIskominfo)
Pemkab Gorontalo saat saat menerima kunjungan BI dan perbankan di Pasar Kayubulan, Kecamatan Limboto.(DIskominfo)

Gorontalopost, LIMBOTO – Era transaksi digital mulai masuk lebih dalam ke pasar tradisional Kabupaten Gorontalo. 

Jika sebelumnya penggunaan pembayaran non-tunai hanya sebatas untuk membayar retribusi, kini pemerintah daerah mendorong QRIS digunakan langsung dalam transaksi jual-beli antara pedagang dan pembeli.

Langkah tersebut dilakukan Pemerintah Kabupaten Gorontalo bersama Bank Indonesia  (BI) dan sejumlah perbankan melalui Roadshow PASAR PASIARI (Pasar Sehat, Inovatif, dan Aman Pakai QRIS).

Program tersebut menyasar tiga pasar tradisional di Kabupaten Gorontalo sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Pekan QRIS Nasional 2026. 

Baca Juga: Bupati Sofyan Puhi Sebut Perkemahan Pramuka Bukan Sekadar Kemah, Tapi Sekolah Kehidupan Menuju Indonesia Emas

Dalam pelaksanaannya, BI menggandeng Bank SulutGo (BSG), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Muamalat.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gorontalo Viktor Asiku 
mengatakan, digitalisasi transaksi di pasar selama ini belum sepenuhnya menyentuh 
aktivitas jual-beli. 

Penggunaan pembayaran digital masih lebih banyak digunakan pedagang ketika membayar retribusi.

Kini, pola tersebut ingin diubah. QRIS didorong menjadi pilihan pembayaran langsung  ketika masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari di pasar.

“Kalau sebelumnya QRIS lebih banyak digunakan untuk pembayaran retribusi, sekarang kami ingin penggunaannya diperluas hingga transaksi pedagang dan pembeli. 

Jadi digitalisasi benar-benar masuk ke aktivitas jual-beli,” ujar Viktor saat menerima kunjungan BI dan perbankan di Pasar Kayubulan, Kecamatan Limboto, Selasa (11/8/2026).

Menurut Viktor, penggunaan QRIS memberikan keuntungan praktis bagi pedagang 
maupun konsumen.

Baca Juga: Empat Jembatan di Boalemo Rusak Dihantam Bencana, Bupati Rum Pagau Kejar Rp50,9 Miliar ke BNPB

Salah satunya adalah transaksi dapat dilakukan sesuai nilai barang  yang dibeli tanpa harus repot mencari uang pecahan untuk kembalian.

Pembayaran digital juga dinilai mampu mengurangi risiko peredaran uang palsu. Di sisi  lain, transaksi yang tercatat secara digital dapat membantu pedagang memiliki pembukuan keuangan yang lebih tertib.

“Transaksi menjadi lebih praktis karena pembayaran dapat dilakukan sesuai nominal. Dari  sisi pedagang, riwayat transaksi juga bisa membantu membuat pencatatan keuangan lebih tertib dan transparan,” jelasnya.

Roadshow PASAR PASIARI tidak hanya dilakukan di satu lokasi. Program tersebut 
menyasar tiga pasar tradisional di Kabupaten Gorontalo.

Kegiatan pertama telah berlangsung di Pasar Hulawa, Kecamatan Telaga, pada Jumat  sebelumnya. Selanjutnya, sosialisasi dan akuisisi pedagang dilakukan di Pasar 
Kayubulan, Kecamatan Limboto, Selasa (11/8/2026).

Roadshow berikutnya dijadwalkan berlangsung di Pasar Kaliyoso, Kecamatan 
Dungaliyo, pada Sabtu mendatang.

Untuk mempercepat penggunaan QRIS di kalangan pedagang, BI bersama perbankan juga  menyiapkan sejumlah program pendukung bagi pedagang yang baru mendaftarkan akun  QRIS.

Pedagang yang melakukan akuisisi akun baru berkesempatan mendapatkan berbagai  insentif, di antaranya tumbler, gula pasir, hingga beras.

Program tersebut diharapkan menjadi pemantik agar semakin banyak pedagang pasar  tradisional mulai terbiasa menggunakan pembayaran digital dalam aktivitas perdagangan  sehari-hari.

Baca Juga: Tersangka Korupsi Bank SulutGo Tilamuta Dilimpahkan ke Kejari Boalemo, Rp221 Juta dan 3 Mobil Jadi Barang Bukti

Bagi Pemkab Gorontalo, digitalisasi pasar bukan sekadar mengganti uang tunai dengan  transaksi melalui telepon seluler. Lebih jauh, 

langkah tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem perdagangan yang lebih tertib, efisien dan mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Viktor menegaskan, sinergi antara Pemkab Gorontalo, BI, BSG, BRI dan Bank Muamalat menjadi salah satu kekuatan untuk mempercepat transformasi ekonomi digital di daerah.

“Digitalisasi ekonomi harus menjadi gerakan bersama. Kolaborasi pemerintah daerah,  Bank Indonesia dan perbankan ini kami dorong agar transaksi di pasar semakin modern, efisien dan mendukung agenda transformasi ekonomi daerah,” pungkas Viktor.

Dengan masuknya QRIS hingga ke transaksi harian pasar tradisional, masyarakat 
Kabupaten Gorontalo perlahan diarahkan menuju pola perdagangan yang lebih praktis. 

Pasar yang selama ini identik dengan uang tunai kini mulai beradaptasi dengan ekosistem pembayaran digital.(Mg-04).

Editor : Azis Manansang
Gorontalo pasar tradisional qris bank indonesia BI Gorontalo KABUPATEN GORONTALO