Kangkung Paling Diminati di Menu MBG, Petani Gorontalo Utara Didorong Tingkatkan Produksi

Nur Fadilah • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:11 WIB
Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu (dua dari kiri) bersama Wakil Bupati Nurjana Hasan Yusuf (dua dari kanan) dan Anggota Komisi II DPRD Gorontalo Utara Fitri Yusup Husain (belakang kanan) saat meninjau pelaksanaan Program MBG di Kecamatan Anggrek. ANTARA/HO-Humas Pemkab Gorontalo Utara
Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu (dua dari kiri) bersama Wakil Bupati Nurjana Hasan Yusuf (dua dari kanan) dan Anggota Komisi II DPRD Gorontalo Utara Fitri Yusup Husain (belakang kanan) saat meninjau pelaksanaan Program MBG di Kecamatan Anggrek. ANTARA/HO-Humas Pemkab Gorontalo Utara

 

GORONTALOPOST -Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya membuka akses pangan bergizi bagi peserta didik, tetapi juga menciptakan peluang pasar baru bagi petani lokal. Salah satu komoditas yang kini memiliki permintaan tinggi adalah kangkung.

Di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, kebutuhan kangkung untuk memenuhi menu Program MBG bahkan mencapai ribuan ikat dalam sekali masak.

Praktisi Program MBG di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tolango, Kecamatan Anggrek, Mansyur, mengatakan kangkung menjadi salah satu jenis sayuran yang dibeli dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan dapur SPPG.

"Untuk sekali masak, kami membeli paling sedikit lima ribu ikat kangkung," katanya.

Jenis kangkung yang paling diminati adalah kangkung darat. Namun, tingginya kebutuhan tersebut belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi petani lokal karena ketersediaannya masih terbatas.

Kondisi itu mendorong pengelola SPPG untuk mencari solusi dengan menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di wilayah tersebut. Kerja sama diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk membudidayakan kangkung sekaligus menjadikan BUMDes sebagai pemasok kebutuhan dapur SPPG.

Mansyur mengatakan, berdasarkan survei yang dilakukan pihaknya, sayur kangkung termasuk salah satu menu yang paling disukai peserta didik penerima manfaat Program MBG.

"Kalau kami sajikan menu sayur kangkung, rata-rata habis dimakan oleh penerima manfaat. Ompreng akan kembali dalam kondisi bersih tak ada selembar sayur yang tersisa," katanya.

Tingginya minat peserta didik tersebut menjadi peluang bagi petani di daerah untuk mengembangkan komoditas kangkung. SPPG pun berupaya membuka pasar bagi hasil pertanian lokal sehingga kebutuhan sayuran tidak lagi harus didatangkan dari luar Kabupaten Gorontalo Utara.

"Kami terus mendorong petani yang digerakkan melalui BUMDes, untuk menanam dan membudidayakan kangkung darat, sebab sayuran ini menjadi salah satu kebutuhan pangan yang diperlukan dapur SPPG," katanya.

Selain kangkung, sejumlah sayuran lain seperti kacang panjang, kol dan wortel juga diminati penerima manfaat MBG. Beragam olahan sayuran turut disajikan untuk memberikan variasi menu, termasuk tumis kacang panjang dan laksa.

"Kami pun menyajikan sayur variasi tumis kacang panjang dan laksa. Olahan sayur ini juga diminati penerima manfaat Program MBG," katanya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Gorontalo Utara Ajuba Thalib mengatakan, kebutuhan sayuran di daerah tersebut hingga kini masih banyak dipenuhi dari luar daerah.

Komoditas sayuran antara lain didatangkan dari Kabupaten Gorontalo hingga wilayah Minahasa, Sulawesi Utara. Kondisi tersebut terjadi karena kegiatan budidaya sayuran di Gorontalo Utara masih tergolong terbatas.

Akibatnya, ketika permintaan meningkat, pedagang maupun konsumen harus mendatangkan sayuran dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan.

Situasi tersebut semakin terasa pada musim kemarau. Keterbatasan pasokan membuat harga sejumlah komoditas sayuran mengalami kenaikan cukup signifikan.

Harga sayur yang sebelumnya rata-rata sekitar Rp5.000 per ikat kini dapat mencapai Rp10.000 per ikat.

Kangkung darat juga menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga. Jika sebelumnya kangkung dapat diperoleh dengan harga Rp5.000 untuk tiga ikat, kini harganya mencapai Rp5.000 per ikat.

Tingginya kebutuhan kangkung untuk Program MBG sekaligus menjadi peluang bagi petani dan BUMDes di Gorontalo Utara. Jika produksi lokal dapat ditingkatkan, kebutuhan dapur SPPG dapat dipenuhi dari daerah sendiri, sekaligus membuka pasar yang lebih pasti bagi hasil pertanian masyarakat.(antara)

Editor : Nur Fadilah
Dapur SPPG program mbg