Gorontalopost, LIMBOTO— Bahasa Gorontalo menghadapi tantangan serius di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat.
Penggunaannya dalam percakapan sehari-hari disebut terus mengalami penurunan dan semakin banyak bercampur dengan bahasa Melayu.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Gorontalo mengambil langkah untuk menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah
sebagai bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat Gorontalo.
Baca Juga: 1,5 Tahun Terisolasi, Jembatan Bailey Pani Gold Mine Pulihkan Akses Warga Pulubala
Bupati Gorontalo Sofyan Puhi mengatakan, penguatan bahasa daerah tidak boleh hanya dilakukan melalui kegiatan kebudayaan.
Bahasa Gorontalo perlu dikembalikan ke ruang-ruang kehidupan masyarakat agar tetap digunakan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Pemkab Gorontalo memperoleh informasi dari Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo
mengenai semakin berkurangnya masyarakat yang menggunakan bahasa Gorontalo dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya mendapat informasi dari Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo bahwa jumlah
masyarakat yang masih menggunakan bahasa Gorontalo semakin menurun.
Ini tentu menjadi perhatian kita bersama,” ujar Sofyan.
Menurutnya, bahasa memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan budaya. Ketika sebuah bahasa semakin jarang digunakan,
maka perlahan-lahan identitas budaya yang melekat di dalamnya juga berpotensi ikut memudar.
Karena itu, Pemkab Gorontalo berencana memperluas penggunaan bahasa Gorontalo di berbagai ruang publik.
Salah satu yang tengah didorong adalah pemanfaatan bahasa daerah dalam kegiatan keagamaan, termasuk khotbah Jumat.
“Bahasa adalah bagian awal dari budaya kita. Dulu bahasa Gorontalo sangat akrab
digunakan dalam keluarga dan pergaulan sehari-hari.
Sekarang kebiasaan itu semakin berkurang, sehingga harus kita hidupkan kembali bersama-sama,” tegasnya.
Selain mendorong penggunaan bahasa daerah dalam aktivitas keagamaan, pemerintah daerah
juga menyiapkan langkah penguatan literasi dengan memperluas akses masyarakat terhadap kamus Bahasa Gorontalo.
Kamus tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga menjadi sarana bagi masyarakat,
terutama generasi muda, untuk mengenal kembali kosakata dan penggunaan bahasa daerah.
Upaya membiasakan bahasa Gorontalo juga mulai dilakukan di lingkungan pemerintahan.
Baca Juga: Jalan Tulabolo–Pinogu Melintasi Kawasan Hutan, Bone Bolango Percepat Revisi Adendum PKS
Sebelumnya, Pemkab Gorontalo telah menggelar lomba bahasa Gorontalo yang
melibatkan jajaran kepala dinas
sebagai salah satu cara memperkenalkan sekaligus membangun kebiasaan menggunakan bahasa daerah.
“Kami sudah memulai dari lingkungan pemerintah melalui berbagai kegiatan, termasuk lomba bahasa Gorontalo.
Ke depan, literasi daerah akan terus diperkuat melalui buku, kamus maupun materi keagamaan sehingga generasi muda memiliki ruang untuk belajar dan menggunakannya,” kata Sofyan.
Semangat tersebut kemudian diterjemahkan dalam kegiatan yang digelar Pemerintah Kecamatan Limboto.
Lomba Pidato Bahasa Gorontalo berlangsung di Warkop Love Story Limboto, Sabtu (15/8/2026), dengan melibatkan para kepala lingkungan se-Kecamatan Limboto.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah konkret untuk membawa bahasa Gorontalo kembali ke tengah masyarakat.
Para peserta tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pidato, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Pemkab Gorontalo berharap gerakan pelestarian bahasa daerah tidak berhenti pada
perlombaan atau kegiatan seremonial.
Penggunaan bahasa Gorontalo diharapkan kembali tumbuh dalam keluarga, lingkungan pemerintahan, kegiatan sosial, keagamaan hingga ruang publik.
Sebab, semakin sering bahasa daerah digunakan, semakin besar pula peluang bahasa tersebut bertahan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Mg-04).
Editor : Azis Manansang