Bahasa Gorontalo Makin Tergerus, Pemkab Dorong Kembali Jadi Bahasa di Ruang Publik

Azis Manansang • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 02:14 WIB

 

Bupati Gorontalo Sofyan Puhi membuka Lomba Pidato Bahasa Gorontalo yang digelar Pemerintah Kecamatan Limboto di Warkop Love Story Limboto.(Diskominfo)
Bupati Gorontalo Sofyan Puhi membuka Lomba Pidato Bahasa Gorontalo yang digelar Pemerintah Kecamatan Limboto di Warkop Love Story Limboto.(Diskominfo)

Gorontalopost, LIMBOTO— Bahasa Gorontalo menghadapi tantangan serius di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat. 

Penggunaannya dalam percakapan sehari-hari disebut terus mengalami penurunan dan semakin banyak bercampur dengan bahasa Melayu.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Gorontalo mengambil langkah untuk menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah 

sebagai bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat Gorontalo.

Baca Juga: 1,5 Tahun Terisolasi, Jembatan Bailey Pani Gold Mine Pulihkan Akses Warga Pulubala

Bupati Gorontalo Sofyan Puhi mengatakan, penguatan bahasa daerah tidak boleh hanya  dilakukan melalui kegiatan kebudayaan. 

Bahasa Gorontalo perlu dikembalikan ke ruang-ruang kehidupan masyarakat agar tetap digunakan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Pemkab Gorontalo memperoleh informasi dari  Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo 

mengenai semakin berkurangnya masyarakat yang menggunakan bahasa Gorontalo dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya mendapat informasi dari Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo bahwa jumlah 
masyarakat yang masih menggunakan bahasa Gorontalo semakin menurun.

Ini tentu menjadi perhatian kita bersama,” ujar Sofyan.

Menurutnya, bahasa memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan budaya. Ketika  sebuah bahasa semakin jarang digunakan, 

maka perlahan-lahan identitas budaya yang melekat di dalamnya juga berpotensi ikut memudar.

Karena itu, Pemkab Gorontalo berencana memperluas penggunaan bahasa Gorontalo di  berbagai ruang publik. 

Salah satu yang tengah didorong adalah pemanfaatan bahasa daerah dalam kegiatan keagamaan, termasuk khotbah Jumat.

“Bahasa adalah bagian awal dari budaya kita. Dulu bahasa Gorontalo sangat akrab 
digunakan dalam keluarga dan pergaulan sehari-hari. 

Sekarang kebiasaan itu semakin berkurang, sehingga harus kita hidupkan kembali bersama-sama,” tegasnya.

Selain mendorong penggunaan bahasa daerah dalam aktivitas keagamaan, pemerintah  daerah

juga menyiapkan langkah penguatan literasi dengan memperluas akses masyarakat  terhadap kamus Bahasa Gorontalo.

Kamus tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga menjadi sarana  bagi masyarakat,

terutama generasi muda, untuk mengenal kembali kosakata dan penggunaan bahasa daerah.

Upaya membiasakan bahasa Gorontalo juga mulai dilakukan di lingkungan pemerintahan. 

Baca Juga: Jalan Tulabolo–Pinogu Melintasi Kawasan Hutan, Bone Bolango Percepat Revisi Adendum PKS

Sebelumnya, Pemkab Gorontalo telah menggelar lomba bahasa Gorontalo yang 
melibatkan jajaran kepala dinas 

sebagai salah satu cara memperkenalkan sekaligus membangun kebiasaan menggunakan bahasa daerah.

“Kami sudah memulai dari lingkungan pemerintah melalui berbagai kegiatan, termasuk  lomba bahasa Gorontalo. 

Ke depan, literasi daerah akan terus diperkuat melalui buku, kamus maupun materi keagamaan sehingga generasi muda memiliki ruang untuk belajar dan menggunakannya,” kata Sofyan.

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan dalam kegiatan yang digelar Pemerintah  Kecamatan Limboto. 

Lomba Pidato Bahasa Gorontalo berlangsung di Warkop Love Story Limboto, Sabtu (15/8/2026), dengan melibatkan para kepala lingkungan se-Kecamatan Limboto.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah konkret untuk membawa bahasa Gorontalo  kembali ke tengah masyarakat. 

Para peserta tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pidato, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pemkab Gorontalo berharap gerakan pelestarian bahasa daerah tidak berhenti pada 
perlombaan atau kegiatan seremonial. 

Penggunaan bahasa Gorontalo diharapkan kembali tumbuh dalam keluarga, lingkungan pemerintahan, kegiatan sosial, keagamaan hingga ruang publik.

Sebab, semakin sering bahasa daerah digunakan, semakin besar pula peluang bahasa  tersebut bertahan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Mg-04).

Editor : Azis Manansang
Gorontalo PelestarianBudaya PEMKAB GORONTALO bahasa daerah Sofyan Puhi