Gorontalopost, LIMBOTO — Ribuan koleksi buku yang tersimpan di perpustakaan Kabupaten Gorontalo dinilai memiliki potensi besar untuk memperkaya pengetahuan generasi muda.
Namun, keberadaan koleksi tersebut akan sia-sia jika pelajar tidak menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari kebiasaan belajar mereka.
Bupati Gorontalo Sofyan Puhi pun mengajak generasi muda mengubah cara pandang terhadap perpustakaan.
Baca Juga: Tak Bisa ke Kantor Dukcapil karena Dirawat, Siswa 17 Tahun Direkam KTP-el di RSUD Toto Kabila
Ajakan itu disampaikannya saat membuka Pembekalan Lomba Resensi Buku Berbasis
Koleksi Perpustakaan Tingkat Kabupaten Gorontalo di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo, Selasa (22/9/2026).
Sofyan melihat lomba resensi buku sebagai momentum untuk membangun kembali kedekatan pelajar dengan perpustakaan.
Menurutnya, kegiatan membaca dan menulis tidak semestinya hanya dilakukan ketika ada perlombaan, tetapi perlu menjadi kebiasaan dalam proses pendidikan.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar kemampuan mengikuti lomba. Anak-anak perlu dibiasakan datang ke perpustakaan, membaca koleksi yang ada dan menjadikan buku sebagai salah satu sumber untuk memperluas wawasan,” ungkap Sofyan.
Ia juga menyoroti tantangan perpustakaan di tengah perkembangan teknologi. Ketika gawai semakin lekat dengan kehidupan generasi muda,
perpustakaan dituntut tidak hanya mempertahankan koleksi konvensional, tetapi juga mengikuti perubahan pola belajar masyarakat.
Karena itu, modernisasi perpustakaan dinilai penting. Akses terhadap bahan bacaan digital perlu diperluas, sementara fasilitas dan suasana ruang perpustakaan juga harus dibuat semakin nyaman agar pelajar tertarik memanfaatkannya.
Baca Juga: 342 KK di Lamahu Terima Bantuan Beras CPP, Venny Junus Ingatkan Jangan Dijual
Sofyan mengatakan kegiatan resensi buku dapat memberikan manfaat lebih luas bagi perkembangan kemampuan siswa.
Membaca buku kemudian menuangkannya dalam sebuah resensi dapat melatih siswa memahami isi bacaan sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menulis.
“Dari membaca, siswa tidak hanya mendapatkan informasi. Mereka juga bisa belajar mengamati, menganalisis, berpikir kritis dan kemudian menyusun pemahamannya dalam bentuk tulisan,” jelasnya.
Dengan pendekatan tersebut, Sofyan berharap perpustakaan tidak sekadar menjadi tempat menyimpan buku, melainkan benar-benar hidup sebagai ruang belajar dan pengembangan pengetahuan bagi generasi muda.
Pembekalan lomba resensi buku tingkat Kabupaten Gorontalo diikuti perwakilan pelajar dari 22 sekolah.
Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan turut hadir, di antaranya Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo, Asisten III Setda,
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Ketua TP-PKK, Ketua Dharma Wanita Persatuan, narasumber dan guru pendamping.(Mg-04).
Editor : Azis Manansang