Budaya Baca Dimulai dari Rumah, Maryam Sofyan Puhi Ajak Keluarga dan Generasi Muda Berkarya

Azis Manansang • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:43 WIB
Bunda Literasi Kabupaten Gorontalo, Ny. Maryam Sofyan Puhi, dalam Festival Literasi Kabupaten Gorontalo 2026.(F:Diskominfo)
Bunda Literasi Kabupaten Gorontalo, Ny. Maryam Sofyan Puhi, dalam Festival Literasi Kabupaten Gorontalo 2026.(F:Diskominfo)

Gorontalopost, LIMBOTO – Membangun budaya membaca tidak cukup hanya dengan menyediakan buku di sekolah atau perpustakaan. 

Kebiasaan itu perlu tumbuh dari rumah, diperkuat oleh lingkungan masyarakat, dan didukung pemerintah desa hingga kelurahan. 

Baca Juga: Koleksi Perpustakaan Gorontalo Capai 38 Ribu Buku, Sofyan Puhi Dorong Pembaruan dan Budaya Baca

Pesan tersebut disampaikan Bunda Literasi Kabupaten Gorontalo, Ny. Maryam Sofyan Puhi, dalam Festival Literasi Kabupaten Gorontalo 2026.

Festival yang digelar pada 14–16 Oktober itu menjadi kesempatan untuk mengajak 
masyarakat menjadikan membaca sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. 

Maryam meminta kepala desa dan lurah memberi perhatian terhadap pengembangan perpustakaan dan pojok baca agar warga lebih mudah memperoleh bahan bacaan.

Ia memandang keluarga sebagai tempat pertama untuk mengenalkan anak pada buku. 

Orang tua dapat membangun kebiasaan tersebut melalui kegiatan sederhana, seperti  membaca bersama dan menyediakan waktu khusus untuk menikmati bacaan setiap hari.

Namun, upaya meningkatkan literasi tidak boleh berhenti di lingkungan keluarga. 

Menurut Maryam, perpustakaan juga perlu hadir sebagai ruang interaksi yang memungkinkan masyarakat belajar, berdiskusi, mengembangkan kreativitas, dan mengasah keterampilan. 

Karena itu, layanan membaca perlu diperluas melalui perpustakaan desa, taman baca  masyarakat,

pojok baca, hingga perpustakaan keliling untuk menjangkau warga yang jauh  dari pusat pelayanan.

Baca Juga: Waspada Titik Api, BPBD Gorontalo Pantau Asap dan Minta Warga Hindari Pembakaran Lahan

Maryam turut mengajak kader PKK, organisasi perempuan, karang taruna, komunitas, dan  tokoh masyarakat menjadi penggerak literasi. 

Ia mendorong penerapan kebiasaan “Satu Hari Satu Bacaan” sebagai langkah sederhana yang dapat dimulai dari keluarga, kemudian diperluas ke lingkungan sekitar.

Lebih dari sekadar membaca, ia berharap anak-anak dan generasi muda juga berani 
melahirkan karya. 

Kegiatan menulis, mendongeng, hingga membuat konten positif dapat menjadi cara untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menyebarkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam pesannya, Maryam menekankan bahwa keberhasilan gerakan literasi bergantung  pada keterlibatan semua pihak. 

Pemerintah perlu mendukung, perpustakaan memperluas pelayanan, sekolah mendidik, keluarga membangun kebiasaan, masyarakat menghidupkan kegiatan literasi, dan generasi muda menghasilkan karya.

Melalui festival bertema “Membaca Hari Ini, Memimpin Hari Esok” tersebut, Maryam 
berharap budaya membaca tidak hanya ramai selama acara berlangsung. 

Ia ingin gerakan itu terus hidup di rumah, sekolah, kantor desa, perpustakaan, dan ruang-ruang masyarakat melalui kerja sama yang berkelanjutan.(Mg-04).

Editor : Azis Manansang
Gorontalo membaca budaya Perpustakaan keliling Sofyan Puhi