Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Hati-hati, Tertawa Berlebihan dapat Memicu Kematian, Mitos atau Fakta?

Tina Mamangkey • Rabu, 15 November 2023 | 08:29 WIB
Ilustrasi tertawa secara berlebihan. (sumber : freepik)
Ilustrasi tertawa secara berlebihan. (sumber : freepik)

GORONTALOPOST - Tertawa memang dapat melepaskan hormon endorfin yang membantu mengurangi stres, meningkatkan mood, dan memberikan kelegaan sejenak dari masalah kehidupan.

Namun, timbulnya mitos mengenai potensi kematian akibat tertawa berlebihan menimbulkan pertanyaan serius.

Sebuah catatan menarik dari laman Healthline mencatat bahwa filsuf Yunani, Chrysippus, dikabarkan meninggal karena tertawa berlebihan saat menikmati leluconnya sendiri pada Selasa (14/11).

Meskipun banyak yang mempercayai kisah ini, bukti menunjukkan bahwa kematian yang terkait dengan tawa sebenarnya lebih terkait dengan kondisi kesehatan spesifik.

Mari kita eksplorasi beberapa kondisi kesehatan yang, meskipun jarang, dapat menjadi pemicu serius akibat tertawa berlebihan:

1. Penderita Aneurisma

Aneurisma otak adalah tonjolan yang terbentuk di pembuluh darah (arteri) di otak.

Beberapa aneurisma tidak terdiagnosis sebagai pemicu kematian, namun tonjolannya yang ada pada otak dapat pecah dan menyebabkan pendarahan.

Aneurisma yang pecah dapat dengan cepat menyebabkan kerusakan otak, serta menyebabkan peningkatan tekanan pada rongga tengkorak.

Peningkatan tekanan ini dapat mengganggu suplai oksigen ke otak, hingga mengakibatkan koma atau kematian.

Tanda-tanda pecahnya aneurisma otak antara lain Sakit kepala yang parah dan tiba-tiba, muntah, penglihatan ganda, kejang, kepekaan terhadap cahaya, dan kebingungan

2. Penderita asma

Beberapa orang yang mengalami gejala asma ringan, tidak dianjurkan untuk tertawa dengan berlebihan, karena dapat memperparah keadaan asma sehingga sulit untuk bernapas.

Ketika tidak ditangani dengan segera, asma yang disebabkan oleh tertawa terlalu keras dapat mengancam jiwa dan menyebabkan gagal napas hingga serangan jantung.

3. Kejang gelastik

Jenis kejang satu ini biasanya berawal di hipotalamus, kejang ini sering kali dikaitkan dengan tawa atau cekikikan yang tidak terkendali saat bangun atau tidur.

Orang yang mengalami kejang gelastik mungkin tampak tertawa, tersenyum, atau menyeringai.

Ekspresi emosional ini terkadang disebabkan oleh tumor otak yang berada di hipotalamus dan jika tidak ditangani dengan segera akan memicu kematian.

4. Sesak napas

Sama halnya dengan asma, tertawa terlalu keras juga bisa menyebabkan sesak napas atau mati lemas.

Tertawa yang berlebih dapat menghalangi pernapasan sehingga menyebabkan seseorang berhenti bernapas dan kekurangan oksigen dalam tubuh.

Kematian akibat sesak nafas, kemungkinan besar terjadi karena terlalu banyak dinitrogen oksida pada paru-paru.

Dinitrogen oksida umumnya dikenal sebagai gas tertawa, merupakan teknik anestesi lokal yang digunakan selama prosedur praktek perawatan gigi.

5. Pingsan

Pingsan sering terjadi karena kurangnya aliran darah ke otak. Hal ini disebabkan oleh tekanan darah rendah, penurunan detak jantung, dehidrasi, kelelahan, dan keringat berlebih.

Terkadang, pingsan dapat dipicu oleh batuk atau tawa yang berlebihan.

Tertawa jika kamu memiliki penyakit jantung, pingsan yang disebabkan oleh tertawa berlebih dapat menyebabkan kematian jantung mendadak.

Hilang kesadaran yang disebabkan oleh tawa memang tidak menyebabkan serangan jantung, tetapi dapat mengakibatkan cedera yang mengancam jiwa jika kepala terbentur sesuatu ketika pingsan.

Meskipun mitos kematian karena tertawa mungkin saja terjadi, tetapi kecil kemungkinannya pada kamu yang memiliki kesehatan tubuh yang bagus dan masih mengontrol kadar tertawa agar tidak over. (jpg)

Editor : Tina Mamangkey
#kematian #fakta #mitos #tertawa