GORONTALOPOST – Memasuki usia enam bulan, bayi biasanya mulai dikenalkan dengan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) sebagai langkah awal menuju makanan padat.
Namun, beberapa orang tua memutuskan untuk memberikan MPASI lebih awal dari rekomendasi usia tersebut, yang bisa berpotensi menimbulkan masalah kesehatan, khususnya pada sistem pencernaan bayi.
Risiko Pencernaan Serius Akibat MPASI Dini
Ahli gizi anak dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Permatasari, menjelaskan bahwa pemberian MPASI sebelum usia enam bulan dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada bayi. "Sistem pencernaan bayi yang belum matang bisa mengalami kesulitan dalam memproses makanan padat, yang berakibat pada masalah seperti diare, sembelit, atau bahkan alergi makanan," ujarnya.
Sistem pencernaan bayi baru mulai matang sekitar usia enam bulan, di mana enzim-enzim pencernaan mulai diproduksi dalam jumlah yang cukup untuk mencerna makanan selain ASI.
Sebelum usia ini, bayi hanya dapat mencerna susu dengan baik. Pengenalan MPASI yang terlalu dini bisa menyebabkan iritasi pada lambung dan usus yang masih sensitif.
Penelitian Mendukung Keterlambatan Pemberian MPASI
Berbagai penelitian mendukung pendapat Dr. Rina. Sebuah studi yang dilakukan oleh Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition menemukan bahwa bayi yang diberi makanan padat sebelum usia enam bulan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan gastrointestinal dibandingkan bayi yang diberikan MPASI sesuai anjuran usia.
"Resiko infeksi gastrointestinal meningkat karena makanan padat bisa menjadi media bagi patogen untuk masuk ke dalam tubuh bayi," tambah Dr. Rina. "Ini juga dapat mengganggu penyerapan nutrisi yang optimal dari ASI, yang seharusnya masih menjadi sumber utama nutrisi bagi bayi."
Dampak Jangka Panjang pada Kesehatan Anak
Selain masalah pencernaan, pemberian MPASI dini juga dapat menyebabkan risiko jangka panjang seperti obesitas dan diabetes tipe 2. Menurut Dr. Andi Wijaya, seorang pediatrik di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan, kebiasaan makan yang dimulai terlalu dini bisa memengaruhi pola makan dan preferensi makanan anak di kemudian hari. "Bayi mungkin menjadi terbiasa dengan makanan manis atau asin, yang meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan gangguan metabolisme di masa depan," jelasnya.
Anjuran WHO dan Praktisi Kesehatan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Setelah itu, makanan pendamping seperti sayuran, buah-buahan, dan sereal dapat diperkenalkan secara bertahap, sambil tetap melanjutkan pemberian ASI hingga usia dua tahun atau lebih.
Para ahli sepakat bahwa orang tua sebaiknya tidak terburu-buru dalam memberikan MPASI. "Mengikuti panduan kesehatan yang sudah ada adalah cara terbaik untuk memastikan bayi mendapatkan nutrisi yang tepat tanpa membahayakan kesehatan mereka," tegas Dr. Rina.
Mendidik Orang Tua tentang Pentingnya Waktu Pemberian MPASI
Kampanye kesadaran dan pendidikan bagi orang tua terus digalakkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mengurangi praktik pemberian MPASI dini.
Dr. Ahmad Subekti, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, menyatakan bahwa edukasi mengenai pentingnya mengikuti rekomendasi usia enam bulan adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan pencernaan bayi. "Penting untuk memberikan informasi yang tepat agar orang tua dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk kesehatan anak-anak mereka," ungkapnya.
Dalam upaya mendukung kesehatan bayi, orang tua diharapkan lebih memperhatikan kebutuhan gizi dan kesehatan pencernaan bayi mereka dengan mengikuti rekomendasi dari ahli kesehatan.
Dengan demikian, bayi dapat tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa risiko masalah pencernaan akibat pemberian MPASI yang terlalu dini.(antara)
Editor : Nur Fadilah